Menjelang senja, Senin, 22 Desember 2025, udara sejuk menyapa lembut di Cafe Langit, lantai lima Rumah Makan Ulu Juku, di Jln Ujung Pandang Makassar. Mata hari sore juga hanya mengintip dari balik awan.
Di rooftop Cafe Langit itu, pandangan saya jatuh ke ufuk barat, berharap muncul cahaya jingga merona di kaki langit mengantar matahari ke peraduan untuk berganti peran dengan rembulan.
Kendati semburat senja tak kunjung hadir hingga waktu sunset berlalu, saya tetap merasa nyaman bisa membersamai Sahabat Wanti merayakan salah satu hari bahagianya. Ulang tahun ceria.
Dalam sepeminum teh, sejumlah anggota komunitas Penbis terus berdatangan. Meja yang awalnya hanya dua ditambah lagi. Derai tawa dan canda pun terus mewarnai silaturahmi sarat makna itu.
Mereka antara lain, Pembina Penbis Prof Asdar bersama nyonya, Ketua Penbis Heny Suhaeny, Gerhanita Syam, Owner Mulkan Mimba’un Susilowati, Asrul Sani Abu, Wakil Ketua DPRD Pinrang.
Saya berkunjung ke Cafe Langit memenuhi undangan sahabat dan menyatakan rasa syukur atas milad, salah satu Srikandi Penbis (Pengusaha Nulis Buku se Indonesia), Sahabat Wanti.
Saat asyik berbincang santai di pojok selatan Cafe Langit, tetiba terdengar dentingan musik pembuka salah satu tembang populer Iwan Fals yang sangat familiar di kuping saya. Lagu yang senantiasa menginspirasi karena selalu mengenang IBU sebagai madrasah pertama dan utama saya sejak awal menyapa dunia.
“Seperti udara… kasih yang engkau berikan Tak mampu ku membalas…ibu…ibu”
Rangkaian diksi inilah yang membuat saya senantiasa terinspirasi menunjukkan bakti kepada Ibu Tercinta. Saya tidak merayakan Hari Ibu secara khusus, karena bagi saya, setiap hari adalah Hari Ibu.
Ternyata, itu alunan suara Rahman “Bang Maman” Rumaday, founder Komunitas Anak Pelangi. Komunitas nonprofit yang fokus pada pemberdayaan dari lorong ke lorong.
Bukan hanya saya yang asyik menyimak lagu itu, karena Sahabat Wanti juga sangat terkesan dengan lagu tersebut. Dia diam menyimak bait demi bait syair nan indah itu. Rupanya, tembang itu menghunjam dalam di sanubari. Terkenang kepergian Ibunda tercinta.
Dalam hitungan menit, suasana berubah ceria, ketika Prof Asdar mengalunkan tembang Mawar. Fokus berpindah ke layar kaca di sisi timur Cafe Langit. Kini yang berulang tahun yang menyenandungkan syair Jangan Salah Menilai.
Tembang ciptaan Tagor Pangaribuan ini cukup familiar bagi penyuka karaoke. Prof Asdar pun merapat dan ikut membackup dengan suara khasnya. Bahkan, saya yang sementara ambil gambar tak sadar ikut bersenandung kecil. Hehehehe.
Sambil melangkah ke posisi awal di pojok barat, Sahabat Wanti menyampaikan salam hangat dan terima kasih kepada semua yang datang berbagi bahagia. Dia menyalami mereka satu per satu. Kemudian menikmati hidangan.
Selamat milad sahabat hati Wanti, insyaAllah penuh berkah. Selalu ada doa terbaik untuk sahabat saya, nyonya Eldin. Saya sengaja tidak menyebut diksi Bu di depan nama, agar terasa lebih akrab bagi Makchaners.
*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM













