MAKASSARCHANNEL, Makassar – Makassar Art Forum (MAF) bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kota Makassar menggelar Sea of Becoming – Maritime Arts Festival 2026.
Acara ini akan berlangsung pada 27 hingga 29 November 2026 di Pelataran Menara Phinisi, Universitas Negeri Makassar. Panitia mengusung tema “Makassar: Kota yang Terus Menjadi”. Oleh karena itu, festival ini mengajak seluruh lapisan masyarakat membaca kembali sejarah maritim Makassar sebagai sumber ilmu dan inspirasi seni kontemporer.
Makassar Menjadi Pusat Perjumpaan Sejarah Maritim dan Seni Kontemporer
Laut bukan hanya berperan sebagai batas geografis bagi masyarakat Makassar. Sebaliknya, laut menjadi ruang perjalanan manusia, pertukaran pengetahuan, perjumpaan budaya, serta pembentukan identitas daerah. Makassar memiliki jejak pelayaran yang sangat panjang. Misalnya, rute pelayaran menuju Marege dan hubungan historis dengan masyarakat Yolngu di Australia menunjukkan bagaimana laut menyatukan berbagai komunitas lintas wilayah. Dengan demikian, panitia menempatkan sejarah tersebut bukan hanya sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai gagasan hidup untuk seni kontemporer masa kini.
Empat Perspektif Kuratorial Menjadi Landasan Seluruh Rangkaian Acara
Panitia menerjemahkan gagasan utama festival melalui empat perspektif kuratorial yang saling terhubung. Keempat perspektif tersebut kemudian menjadi dasar tiga kegiatan utama yakni Pameran, Pertunjukan, dan Forum Dialog.
Jejak Laut Membaca Kembali Arsip Sejarah Maritim Makassar
Pertama, perspektif Jejak Laut mengajak publik menelusuri sejarah maritim Makassar lewat arsip, peta, foto, dan dokumen sejarah. Perspektif ini mengundang pengunjung membangun pemahaman atas peran Makassar sebagai kota pelabuhan lintas‑wilayah.
Arus, Pertemuan sampai Menjadi Membuka Refleksi Masa Depan Budaya
Kedua, Arus menyajikan interpretasi seni kontemporer tentang perjalanan, mobilitas, diaspora, dan pertukaran budaya. Ketiga, Pertemuan menampilkan ekspresi seni yang mengangkat tubuh, identitas, tradisi, serta nilai kemanusiaan. Keempat, Menjadi membuka ruang refleksi dan dialog untuk membayangkan masa depan seni dan kebudayaan Makassar.
Tiga Program Utama Festival Hadirkan Pengalaman Artistik Lengkap
Program Pameran Gabungkan Arsip Sejarah dan Karya Instalasi Seniman
Pertama‑tama, program Pameran menyatukan pembacaan sejarah maritim dengan karya seni kontemporer. Panitia menyediakan dua booth arsip yang mengangkat Makassar sebagai kota maritim dan jalur pelayaran dunia. Selain itu, enam seniman menampilkan enam karya instalasi dengan pendekatan artistik yang beragam. Tak ketinggalan, satu karya ikon interaktif berjudul Arus Menghubungkan juga menyambut pengunjung selama tiga hari acar.
Program Pertunjukan Rangkaikan Teater, Musik, dan Tari dalam Satu Alur Cerita
Selanjutnya, program Pertunjukan menghadirkan tiga karya mandiri dari tiga disiplin seni berbeda. Tiga disiplin tersebut meliputi teater, musik, dan tari. Meskipun setiap karya memiliki karakter bahasa seni masing‑masing, panitia merangkainya menjadi satu rangkaian pengalaman pertunjukan yang saling berkaitan. Akibatnya, pengunjung merasakan alur cerita maritim Makassar melalui gerak, suara, dan akting secara utuh.
Forum Dialog Menjadi Ruang Bertukar Pemikiran Seniman, Akademisi, dan Masyarakat
Sementara itu, program Forum Dialog menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan refleksi bersama. Panitia menyusun serangkaian kegiatan seperti Bincang Karya, Simposium, Diskusi, Pemutaran Film, sampai sesi Membincang Festival. Kegiatan ini mempertemukan seniman, akademisi, peneliti, komunitas lokal, dan masyarakat umum. Oleh karena hal tersebut, para peserta membahas sejarah, seni, kebudayaan, serta peluang pengembangannya di masa depan. Di balik seluruh rangkaian acara tersebut, tim Riset dan Pengembangan Konten bekerja secara lintas bidang. Tim ini menyusun referensi sejarah, membuat materi editorial, mendokumentasikan pengetahuan maritim, dan menyiapkan katalog resmi festival.
Edisi Pilot Menuju Platform Kebudayaan Maritim 5 Tahun (2026‑2030)
Selain itu, Sea of Becoming Maritime Arts Festival 2026 menjadi edisi perdana sekaligus tahap pilot dalam peta jalan lima tahun Makassar Art Forum. Dengan kata lain, panitia menggunakan acara ini untuk menguji gagasan artistik, format kegiatan publik, serta potensi kolaborasi dengan berbagai pihak. Bukan hanya berhenti pada pelaksanaan festival tahunan, namun panitia juga menjalankan riset, publikasi, dan dialog berkala sebelum hari‑H acara. Pada jangka panjang, Makassar Art Forum mengembangkan festival ini menjadi Platform Kebudayaan Maritim. Platform tersebut menyatukan riset, seniman, pertukaran pengetahuan, kolaborasi, dan jejaring kebudayaan nasional maupun internasional. Seluruh rangkaian kegiatan juga berlandaskan nilai sipakatau untuk menjaga penghormatan terhadap martabat manusia, keberagaman, serta hubungan lintas‑kebudayaan.
Menelusuri Semangat Awal Makassar Art Forum sejak Tahun 1999
Lebih lanjut, Makassar Art Forum telah berdiri sejak tahun 1999. Pada awal berdirinya, forum ini mengusung semangat multikulturalisme, membangun komunikasi antar‑seniman, dan mengembangkan jejaring kebudayaan di tengah krisis ekonomi dan politik Indonesia saat itu. Hingga sekarang, semangat tersebut tetap bertahan. Namun kini, panitia mengembangkannya melalui perspektif maritim Makassar. Panitia menutup pernyataan resminya dengan kalimat kuat: “Makassar adalah kota yang terus menjadi – diperkaya oleh perjalanan, perjumpaan, dan seni.” Oleh karena itu, Sea of Becoming mengajak seluruh masyarakat Makassar dan luar daerah untuk hadir langsung di Pelataran Menara Phinisi UNM pada 27‑29 November 2026. Pengunjung ikut menafsirkan sejarah maritim serta membangun kelanjutan kebudayaan Makassar bersama‑sama.*Art*










