BERITA TERKINIOPINI

Marhaen Bangkit, Menyatu, Berjuang

×

Marhaen Bangkit, Menyatu, Berjuang

Sebarkan artikel ini
SAHABAT seperjuangan, khususnya para Marhaenis dan pemerhati kehidupan RAKYAT miskin. Kemiskinan bisa menghentikan langkah kita sejenak, tetapi tidak boleh menghentikan semangat kita berjuang

SAHABAT seperjuangan, khususnya para Marhaenis dan pemerhati kehidupan RAKYAT miskin. Kemiskinan bisa menghentikan langkah kita sejenak, tetapi tidak boleh menghentikan semangat kita berjuang.

Negeri yang subur dan kaya raya ini, negeri yang diperjuangkan dengan cucuran keringat, air mata dan darah, bahkan dengan nyawa karena niat luhur para pejuang agar negeri ini menjadi toto tentram, gemah ripah loh jinawi sehingga kaum Marhaen bisa terbebas dari kemiskinan.

Tetapi hari ini, Bank Dunia mencatat, penduduk miskin di negeri ini sebesar 63 persen. Itu setelah 103 tahun Bung Karno menemui Mang Aen di tengah sawahnya di Cigereleng.

Mencermati kondisi kehidupan Mang Aen, menyaksikan keringat memabasahi tubuhnya, didera terik mentari pagi, Bung Karno jadi emosional. Emosi menyaksikan bangsanya didera kemiskinan sementara para pejabat kolonial hidup berkelimpahan, menikmati kemewahan, dengan fasilitas yang berlebihan.

Indonesia Harus Merdeka

Semua itu hasil dari kekayaan bumi Indonesia yang subur. Hasil itu mereka nikmati dengan mempekerjakan warga Indonesia yang tetap miskin.

Karena emosi, di tengah sawah itulah, Bung Karno memutuskan: Indonesia harus merdeka. Tujuannya, agar negeri ini dikelola bangsa sendiri agar Marhaen bisa terbebas dari kemiskinan.

Kini, setelah negeri ini 81 tahun merdeka, keadaan saat Bung Karno emosi di tengah sawah menyaksikan Mang Aen ternyata tidak berubah seperti harapan Sang Proklamator.

Yang berubah hanyalah pemerintahnya saja, istilah kaum aktivis hanya ganti pemain. Saat itu, negeri ini dikelola pemerintah kolonial, kini dikelola bangsa sendiri. Tetapi jika saat itu ada segelintir kaum elit yakni para pejabat kolonial, pengusaha bangsa Eropa , Arab, dan Tionghoa yang hidup nikmat namun mayoritas bangsa ini hidup dibebat penderitaan.

Baca Juga  Guru Penggerak Itu Calon Bintang

Hari ini pun, sama. Ada segelintir pejabat dan pengusaha yang menikmati kehidupan berkelimpahan dan sangat nikmat. Bahkan berfoya-foya, tetapi mayoritas penghuni alam Indonesia ini tetap di dera penderitaan.

Apa yang harus dilakukan? Tidak lain, RAKYAT, harus sadar bahwa 81 Indonesia merdeka, RAKYAT hanya diatasnamakan, diperalat, sementara yang menikmati kekayaan di Indonesia ini hanyalah segelintir orang saja.

Lihatlah hutan, contoh konkret. Selama ini jutaan hektare hutan dibabat dan telah menjadikan segelintir orang kaya raya. Tetapi ketika terjadi banjir bandang, RAKYAT banyaklah yang korban. Ketika terjadi kebakaran kaum Marhaenlah yang menderita.

Apa Yang Harus Dilakukan ?

Kita, RAKYAT, harus sadar, bahwa tidak ada yang bisa menolong kita, kecuali RAKYAT sendiri harus sadar tentang nasibnya. Sadar dan bersatu lalu berjuang .
Bersatu memperjuangkan nasib bersama dan jangan mau menggadaikan kedaulatan dengan mie instan 5 bungkus, gula dan minyak goreng 1 kg, uang Rp 100 ribu saja. Terlalu murah. Semua itu adalah wujud penjajahan modern.

Pilihan bagi RAKYAT, mau terus dijajah atau bangkit, menyatu, berjuang memerdekakan diri.

RAKYAT bodoh akan terus dijajah dan tetap miskin.
RAKYAT sadar akan memerdekakan dirinya dan menikmati hidup sejahtera.

Ayo yang sadar, mari kita bersatu berjuang. Jangan sekali-kali menggadaikan kedaulatan kita.***

*) Jacobus K. Mayong Padang, Penyambung Lidah Marhaen

Tinggalkan Balasan