DALAM ajaran Islam, fitnah merupakan perbuatan yang sangat dilarang. Dosanya begitu besar, bahkan disebut lebih kejam daripada pembunuhan. Fitnah tidak hanya merusak nama baik seseorang, tetapi juga menghancurkan kepercayaan, melukai batin, dan memecah hubungan sosial.
Ironisnya, Islam juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia itu sendiri adalah fitnah atau ujian. Harta, jabatan, popularitas, bahkan anak-anak yang dicintai dapat menjadi sarana ujian. Artinya, fitnah bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia, melainkan selalu hadir dan mengintai di setiap sudut kehidupan.
Suatu hari, saya mengalami peristiwa yang hingga kini masih teringat. Seorang siswa datang ke ruangan saya dengan sikap yang tidak biasa. Begitu masuk, ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu menyimpan kunci di saku celananya.
Tanpa saya persilakan, ia langsung duduk di depan meja dan seketika itu pula menangis tersedu-sedu. Tangisnya bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan beban batin yang sudah lama tertahan.
Setelah saya menenangkannya dan menanyakan maksud kedatangannya, dengan suara terbata ia menyampaikan bahwa dirinya sedang menjadi korban fitnah.
Tuduhan-tuduhan yang beredar membuatnya tertekan, malu, dan merasa tidak sanggup menghadapi lingkungan sekitarnya. Ia tidak hanya terluka oleh fitnah itu sendiri, tetapi juga oleh sikap orang-orang yang dengan mudah mempercayai kabar tanpa pernah mencari kebenaran.
Dalam kondisi seperti itu, saya mencoba menenangkannya dengan mengatakan bahwa dunia ini memang tempat ujian, dan fitnah adalah salah satu bentuknya.
Menghadapinya memang berat, tetapi tidak ada jalan lain selain bersabar dan tetap berpijak pada kebenaran. Saya juga mengingatkan bahwa sering kali fitnah tumbuh bukan karena fakta, melainkan karena cerita yang berpindah dari satu lisan ke lisan lain. Sehingga, penting bagi siapa pun untuk menahan diri dalam menilai orang lain.
Kalau belum tahu nyatanya, jangan menilai dari katanya. Sebab lisan bisa keliru, cerita bisa berubah, dan persepsi sering kali dipengaruhi emosi. Menahan prasangka dan tidak tergesa-gesa menghakimi adalah bagian dari kedewasaan iman dan akhlak.
Fitnah memang ada di mana-mana. Ia bisa muncul di rumah, di antara tetangga, di tempat kerja, di pasar, bahkan di tempat ibadah. Pintu fitnah semakin terbuka lebar ketika seseorang berada di dunia bisnis, hukum, atau politik, di mana kepentingan sering kali saling berbenturan. Karena itu, kehati-hatian, kejernihan hati, dan kontrol diri menjadi benteng utama.
Menghindari fitnah bukan berarti menjauh dari kehidupan, melainkan menjalani hidup dengan tanggung jawab, akhlak yang baik, dan kesadaran untuk tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata. Sebab menjaga lisan, sikap, dan prasangka bukan hanya menyelamatkan orang lain, tetapi juga menjaga diri kita sendiri.
*) Yusran MPd, Wakasek Kesiswaan SMA Islam Athirah 1 Makassar













