MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Memeriahkan peringatan ulang tahun ke-3, IPMI luncurkan 2 buku, masing-masing Ibu dan Ibu Gaib, Rabu (24/12/2025).
Buku berjudul Ibu adalah karya anggota IPMI (Ikatan Penulis Muslim Indonesia) yang berisi karya 23 penulis dan buku Ibu Gaib karya Muhammad Amir Jaya.
Peluncuran buku di Kafe Baca Jl Adhyaksa No 2 Makassar itu berlanjut dengan diskusi buku menghadirkan pembahas sudah familiar dengan anggota IPMI.
Diskusi buku yang dipandu Damar I Manakku itu menghadirkan pembicara akademisi / seniman Ram Prapanca, penyair yang juga akademisi Anil Hukma, serta Irwan AT (seniman dan jurnalis).
Di sesi pembukaan, Ketua IPMI Muhammad Amir Jaya mengisahkan aktivitas ikatan penulis tersebut hingga menapak ulang tahun ketiga.
“Awalnya cerpen yang masuk sejumlah 27 cerpen, tetapi setelah diseleksi oleh Kurator Irhyl Makkatutu, menjadi 23 naskah,” ujar Amir Jaya.
Ia juga menerangkan bahwa sebenarnya ada tiga judul yang dikirimkan kepada penerbit untuk dijadikan judul buku.
“Sedangkan cerpen saya merupakan cerpen saya yang ke-8,” tambahnya.
Acara yang dihadiri oleh sejumlah sastrawan, budayawan, akademisi serta wartawan. Mereka antara lain, Prof Kembong Daeng, Dahlan Abubakar, Yudhistira Sukatanya.
Ahmadi Haruna, Andi Wanua Tangke, Asnawin Aminudin, Fadli Andi Natsif, serta para penggiat literasi dan anggota IPMI.
Usai pembukaan dan penyerahan buku acara berlanjut pembacaan puisi oleh Andi Rosnawati dan Ahmadi Haruna.
Tanggung Jawab Moral
Anil Hukma menyebut masih banyak sosok sentral yang layak diangkat sebagai sebuah tulisan.
Salah satunya, kekerasan dalam rumah tangga, namun perempuan yang biasanya menjadi korban lebih banyak tertutup. Begitu pula peran antagonis anak dan ibu.
Dia mengingatkan bahwa penulis memiliki tanggung jawab moral dalam membuat karya, serta konsisten, khususnya dalam membuat cerpen religius.
Meski tulisan itu fiksi namun harus tetap memuat pesan-pesan dakwah. Karena itulah penulis perlu senantiasa belajar dalam hal-hal religius.
Dampak Kemanusiaan
Sementara itu Ram Prapanca menyoroti cerpen Ratmini karya Andi Wanua Tangke yang mengangkat tema luka sejarah masa lalu yang berdampak pada kemanusiaan.
Ram mengatakan, cerpen tersebut mengisahkan, puluhan pemuda menangkap Ratmini dengan tuduhan penjahat politik sebagai anggota Gerwani.
Ketika Sundari, anak Ratmini, ingin membawa putrinya bernama Endang berziarah ke kuburan neneknya, Sundari justru tidak tahu letak kuburan sang ibu.
Pesan yang paling menonjol dalam kisah itu menurut Ram adalah, peristiwa politik tidak hanya berdampak pada mereka yang mengalaminya secara langsung, tetapi juga menjadi warisan kepada anak cucu.
Efek Stigma Politik
Pencarian Sundari tentang makam ibunya, lanjut Ram menunjukkan kerinduan akan identitas dan kebenaran yang terputus oleh stigma sejarah.
Kisah Ratmini yang ditangkap tanpa proses hukum menggambarkan efek stigma politik sangat mengerikan hingga ke keturunn yang tidak tahu masalah.
Penulis menyampaikan pesan, betapa berbahayanya fanatisme yang berefek pada kemanusiaan ketika seseorang sudah dilabeli musuh negara atau penjahat politik. ***













