BERITA TERKINIKOLOM

Makassar Kota Dunia

×

Makassar Kota Dunia

Sebarkan artikel ini
Makassar Kota Dunia bukanlah angan-angan, karena sejatinya, Makassar sudah menyandang status itu jauh sebelum Indonesia merdeka.
KERAJAAN MAKASSAR - Peserta diskusi buku Sejarah Kerajaan Makassar di Sunachi Restoran Hotel Claro Jl AP Pettarani, Makassar, Minggu, 14 Desember 2025. (Foto : Ist)

Makassar Kota Dunia bukanlah angan-angan, karena sejatinya, Makassar sudah menyandang status itu jauh sebelum Indonesia merdeka. Jadi, ungkapan Makassar Menuju Kota Dunia kurang tepat.

Demikian salah satu benang merah yang terungkap saat Diskusi Buku Sejarah Kerajaan Makassar di Sunachi Restaurant Hotel Claro Makassar, Minggu, 14 Desember 2025. Membincang sejarah kerajaan memang sering memantik rasa ingin tau.

Sejumlah akademisi dan pegiat literasi hadir di acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Anak Pelangi (K-Apel) tersebut.

Guru besar yang hadir antara lain, Prof Mardi Adi Armin MHum sekaligus sebagai pembicara utama didampingi sejarawan muda Adil Akbar Ilyas.

Hadir pula Prof Asdar dari Unhas, Prof Kembong Daeng dari UNM, Dr Fadli AndiNasif, tokoh pers nasional versi Dewan Pers Dr Dahlan Abubakar.

Tampak juga dramawan Yudhistira Sukatanya, cerpenis Anwar Nasyarauddin, Pasanjak Mangkasar Syaril Daeng Nassa yang tampil membacakan Sanjak Tontongang Paklinoang, serta Rusdin Tompo ndan sejumlah jurnalis.

Wakil Ketua DPRD Kota Makassar Anwar Faruq Skom MM serta Founder Komunitas Anak Pelangi dan Lorong Kampus Rahman Rumaday memberi salam pembuka.

Prof Mardi Adi Armin yang mengalihbahasakan buku karya penulis asal Perancis, Nicolas Gervaise, Description Historique du Royaume de Macacar.

Diskusi Buku Sejarah Kerajaan Makassar mendapat respon pembaca yang duduk santai memadati empat meja makan yang sudah berisi makanan khas Restoran Sunachi.

Di awal acara Wakil Ketua DPRD Makassar, Anwar Farouk SKom MM, mengaku, ingin mengenal sejarah Sulawesi Selatan lebih detail. Salah satunya melalui diskusi buku Sejarah Kerajaan Makassar itu.

Prof Mardi, mengatakan, karya Nicolas itu merupakan buku pertama yang membahas tentang Indonesia setelah mengembara ke timur untuk melakukan eksplorasi.

Penulis menyebut, ketika itu, Makassar sebagai sebuah kerajaan besar di Nusantara. Pemikiran itu makin kuat setelah ke Thailand dan bertemu dengan Daeng Mangalle.

Prof Mardi mengatakan, buku bagus tahun 1917 itu sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Namun dia memilih menerjemahkan langsung dari aslinya menggunakan bahasa Perancis kuno.

Pengajar tetap Fakultas Ilmu Budaya Unhas ini mengaku butuh waktu enam bulan untuk menyelesaikan alih bahasa buku tersebut, baru bisa dicetak.

Isu Mendasar

Tak pelak lagi, buku terjemahan Prof Mardi memantik antusiasme pencinta sejarah, akademisi, dan pegiat budaya, politisi, dan jurnalis berkumpul saat itu.

Sangat menarik menelaah kisah Makassar sebagai KOTA DUNIA tujuh abad silam dan perjuangan tubarani na Sulawesi Selatan bernama Daeng Mangalle di Negeri Ayuthia, Siam (Thailand sekarang).

Meski Makassar Kota Dunia tidak dibahas secara detail oleh dua nara sumber dalam diskusi itu, namun, tetap menarik menjadi bahan diskursus. Apatah lagi, beberapa waktu lalu muncul tagline “Makassar Menuju Kota Dunia.”

Padahal, menurut buku itu, Makassar sudah menjadi Kota Dunia ratusan tahun silam. Tepatnya di abad IX, ketika Kerajaan Gowa dipimpin oleh Tumapa’risi, raja IX.

Saat itulah, selain mampu mengalahkan kerajaan-kerajaan sekitarnya, Gowa — yang merupakan kerajaan kembar Gowa-Tallo yang berpusat di Sombaopu yang juga menjadi ibu kota kerajaan berkembang pesat.

Makassar Menuju Kota Dunia perlu diluruskan karena Makassar sudah menjadi kota dunia, pada pertengahan abad XVII.

Dalam diskusi buku ini nama Daeng Mangalle menjadi isu sentral diharapkan menjadi wacana yang akan terus diaktualisasikan ke depan.

Himpun Banyak Fakta

Sejarawan muda yang menjadi pembicara kedua, Adil Akbar Ilyas, menyebut buku tersebut banyak menghimpun fakta, khususnya; latar belakang Makassar, kebudayaan, dan agama. Apatah lagi banyak suku bangsa yang menjamah Makassar. Banyak juga informasi tentang kuliner Makassar yang makin memperkaya identitas.

Jadi tagline yang paling tepat adalah, Makassar Kembali Menjadi Kota Dunia. Adil juga mengingatkan agar setiap kita, tidak melupakan sejarah, karena di situlah kita berakar.

“Tidak gampang suku bangsa memiliki aksara sendiri dan itu diwariskan. Kawal nilai dan attitude jangan jadi generasi pecundang,” katanya.

Idil mengusulkan kepada Pemerintah Kota Makassar, agar membuka formasi formasi guru bahasa daerah untuk penerimaan agar bahasa Makassar tidak punah karena tetap diajarkan.

Guru Besar Universitas Negeri Makassar, Prof Kembong Daeng, menyebut buku tersebut layak diterjemahkan ke dalam bahasa Makassar.

Itu juga menjadi salah sat upaya merawat Bahasa Makassar. Karena untuk pemajuan budaya maka perlu memelihara Kota Makassar.

Prof Kembong Daeng juga berharap pelajaran Bahasa Makassar masuk lagi dalam kurikulum sebagai muatan lokal.

Merespons usulan itu, Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Anwar Faruq, berjanji membahas usulan tersebut. ***

*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM

Tinggalkan Balasan