BERITA TERKINIRAGAM INFO

Waspada! Penipuan Registrasi KTP Digital, Ada yang Mencatut Dukcapil Gowa

×

Waspada! Penipuan Registrasi KTP Digital, Ada yang Mencatut Dukcapil Gowa

Sebarkan artikel ini
Waspada! Penipuan Registrasi KTP Digital, Ada yang Mencatut Dukcapil Gowa yang dialami seorang warga di kompleks perunahan di Makassar
Ilustrasi (Makassarchannel/AI)

MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Haeruman (35) warga salah satu kompleks perumahan di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, hampir menjadi korban penipuan online dengan modus registrasi KTP digital.

Sabtu sore pekan lalu, Hairuman menerima telepon dari nomor tidak dikenal melalui aplikasi WhatsApp (WA).

Penelepon mengaku dari Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Gowa.

Haeruman menetap di Makassar tetapi memiliki KTP daerah adminitrasi Kabupaten Gowa.

Si penelepon meminta Hairuman datang ke Kantor Dukcapil Gowa pada hari Senin untuk melakukan registrasi dan rekaman KTP digital.

Penelepon meminta agar sebelum ke Dukcapil, Haeruman menyiapkan KTP dan Kartu Keluarga (KK).

Selain itu, harus lebih dahulu melakukan registrasi online. Agar nantinya petugas di Kantor Dukcapil tinggal melakukan varifikasi.

Penelepon berdalih registrasi onine ini wajib mengingat harus melayani banyak warga.

Untuk melakukan registrasi online, penelepon meminta Hairuman menyiapkan KTP dan berbagai dokumen kependudukan lainnya.

Penelepon laki-laki itu mengatakan akan mengalihkan ke petugas registrasi online di Dukcapil agar memandu melakukan registrasi.

Penipu mengalihkan telepon ke seorang perempuan yang mengaku petugas Dukcapil.

Suasana pun berganti jadi riuh atau ramai, laiknya di ruangan layanan KTP.

Penerima telepon perempuan berbicara dengan ramah bersahaja. Ia memperkenalkan diri sebagai petugas registrasi KTP Digital Dukcapil Gowa.

Mulai Curiga

Di tahap ini, Haeruman yang mengaku sedikit memahami teknologi informasi mulai curiga.

Pertama, perempuan yang mengaku petugas Dukcapil Gowa itu tidak bisa menanggapi setelah dipancing Haeruman dengan candaan logat Makassar.

Kedua, Haeruman menyimak suasana ramai, tidak menandakan pelayanan Kantor Dukcapil di Gowa atau di Sulawesi Selatan. Sebab tidak satu pun riuh percakapan menggunakan logat Makassar atau Sulsel. Haeruman memperkirakan itu rekaman untuk merekayasa suasana, seolah-olah di ruang pelayanan KTP.

Ketiga, tidak lazimnya instansi pemerintah melayani masyarakat sampai sore hari, apalagi menjelang magrib.

Sengaja Mengikuti Arahan

Meski sudah yakin penipuan, Haeruman sengaja mengikuti arahan untuk melihat seperti apa trik dan teknis penipuan itu lebih lanjut.

Penipu meminta Haeruman mengunduh dan menginstal aplikasi KTP Digital di Play Store. Ini aplikasi resmi dari pemerintah. Salah satu trik agar seolah-olah ini proses resmi.

Penipu kemudian meminta Haeruman membuka browser Chrome untuk mengunduh aplikasi tambahan dengan nama digitalktp.online.

Haeruman makin yakin ini penipuan karena aplikasi itu tidak menggunakan domian pemerintah atau go.id (dot go dot id).

”Kalau ini benar dari pemerintah, harusnya menggunakan go.id, jadi misalnya digitalktp.go.id bukan yang lain. Saya lalu menggunakan hp saya yang lain, yang tidak ada akun penting seperti bank. Ternyata digitalktp.online yang menyebut sebagai aplikasi tambahan adalah APK jahat yang disamarkan,” cerita Haeruman.

Pemindaan Sidik Jari dan Identifikasi Wajah

Di hp yang lain itu, Haeruman mencoba mengunduh aplikasi jahat itu dan sengaja terus mengikuti arahan dari petugas gadungan.

Sambil berbicara dengan penipu, Haeruman juga melakukan searching di Google dengan kata-kata kunci penipuan registrasi KTP digital. Ternyata sudah banyak korban, bahkan ada yang kehilangan uang puluhan juta rupiah di rekening.

”Ternyata aplikasi jahat digitalktp.online adalah sarana identifikasi identitas. Bahkan menggunakan metode biometrik. Saya diminta melakukan rekaman atau pemindaan sidik jari dan indentifikasi wajah. Berbahaya sekali, karena inilah nanti mereka gunakan menjebol rekening bank kita, atau identitas rahasia lainnya,” ungkap Haeruman.

Ketika dipandu melakukan pemindaan biometrik, Haeruman beralasan ke masjid untuk salat magrib.

”Kebetulan rumah dekat masjid dan sudah memutar salawat, saya perdengarkan. Petugas palsu itu juga mengatakan menghentikan aktivitas sementara untuk salat magrib. Akan menghubungi saya kembali setelah magrib melanjutkan registrasi. Tapi, saya sengaja berbohong minta menghubungi setelah jam 8 lewat atau setelah salat isya, karena ada aktivitas di masjid,” ungkap Haeruman.

Haeruman mematikan dua hpnya sebelum ke masjid. Pulang dari salat magrib, ia membersihkan aplikasi sampah (chace) kedua hpnya, mengganti PIN, menonaktifkan sidik jari rekening bank, dan mengganti beberapa pasword dokumen penting.

Ketahuan, Penipu Mengancam

Jam 20:00 Wita lewat, pulang dari salat isya, Haeruman kembali dihubungi penipu.

”Kita lanjut ya, tinggal tiga langkah lagi, registrasi bapak selesai. Tinggal melakukan sidik jari dan identifikasi wajah,” kata Haeruman meniru perkataan penipu.

Setelah pura-pura menyatakan siap, petugas gadungan kembali memandu Haeruman. ”Petugas” perempuan itu meminta Haeruman melakukan scan sidik jari.

Namun, sebelum lanjut, Haeruman mengatakan ingin menyampaikan sesuatu, agar bisa lancar registrasi hari Senin di Kantor Dukcapil. ”Petugas” mempersilakannya.

”Begini bu. Tadi waktu salat magrib dan isya, saya didatangi malaikat. Malaikat bilang, jangan layani petugas registrasi di Dukcapil Gowa. Suruh mereka pensiun, pensiun dini saja kalau belum waktunya, kalau mau selamat dunia dan akhirat,” ungkap Haeruman kepada penipu.

Kata Haeruman, petugas gadungan kemungkinan terkejut dengan candaannya. Namun langsung beraksi.

”Apa maksud bapak. Jangan main-main, pak,” kata penipu.

”Saya tidak main-main, bu. Saya hanya sampaikan pesan malaikat. Pesan dari langit. Ini amanah. Apalagi malaikat bisiki saya tadi katanya anda penipu,” kata Haeruman kepada penipu.

Manurut Haeruman, kemungkinan merasa sudah ketahuan, penipu pura-pura tersinggung. Suasana jadi gaduh. ”Petugas gadungan mempersilakan Haeruman berbicara dengan seorang laki-laki yang mengaku sebagai kepala dinas.

”Jangan main-main, menuduh kami penipu. Anda menghina aparat pemerintah. Kami bekerja melayani masyakat sampai malam. Awas, anda bertanggung jawab karena kami akan laporkan,” kata suara laki-laki yang disebut sebagai kepala dinas.

”Silakan laporkan, kita sama-sama melaporkan,” kata Heruman.

Penipu kembali mengancam.

‘Anda menghina pemerintah. Saya black list KTP dan Kartu Keluarga karena kamu menghina aparat pemerintah,” ancam kepala dinas gadungan kembali.

Menurut Haeruman, laki-laki itu menyebut nomor KTPnya, nomor KK, alamat, dan satu per satu anggota keluarga Haeruman yang terdaftar di KK. Berarti para penipu memegang dokumen KK. Pertanyaannya, di mana mereka peroleh?

Namun, Haruman mengatakan di negeri ini kebocoran data pribadi jadi hal yang lumrah. Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi sudah disahkan 3 tahun lalu, tapi belum juga berlaku efektif.

”Jangankan penipu di negeri sendiri, data-data kita juga sudah jadi jaminan perjanjian dagang dengan negara adikuasa,” kata Haeruman sambil tertawa.

Ia menyentil data penduduk Indonesia ditransfer ke Pemerintah Amerika Serikat. Menjadi salah satu persyaratan penentuan tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Haeruman mengatakan khawatir jika penipuan seperti ini menimpa orang yang awam, yang tidak memahami teknologi informasi. ***

Tinggalkan Balasan