MAKASSARCHANNEL, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap ada dugaan mafia memainkan harga beras di pasaran.
Mentan menyatakan saat ini persediaan beras nasional justru surplus dengan stok sekitar 4 juta ton di Bulog. Namun, harga beras di pasaran justru naik.
Amran Sulaiman menyatakan kondisi ini diduga ada kaitannya dengan anomali data di Food Stasion Tjipinang atau Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC).
Kejanggalan Data
Kepada wartawan dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (3/6/2025), Andi Amran menyatakan ada kejanggalan data stok beras yang keluar di PBIC.
Mentan mengatakan data tanggal 25 Mei 2025 tercatat beras keluar dari PIBC sebanyak 11.410 ton. Padahal data rata-rata pengeluaran PBIC sebanyak 2.000-3.000 ton per hari.
Ia menilai, kejanggalan data ini diduga merupakan modus mafia beras yang ingin meraup keuntungan pribadi. Salah satunya dengan mengerek kenaikan harga beras.
Menyasar SPHP
Andi Amran mengatakan, ketika harga beras naik di eceran, ia langsung cek. Menurutnya sekarang tidak ada lagi alasan, karena stok beras cukup.
“Kalau stok Bulog kurang, impor. Paham? Ini dimainkan, kalau stok kita tidak banyak, apa yang terjadi? Pasti minta impor kan? Benar gak? Apa mau minta impor? Dengan kondisi kita stok 4 juta ton,” ungkap Amran.
Amran menyatakan modus para mafia beras tersebut juga menyasar agar diturunkannya stok beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Menurut Amran, ada laporan dari jajarannya, kalau beras SPHP diturunkan nantinya digunakan untuk mencampur dengan beras lokal.
“Setelah diblending (dicampur) baru dijual mahal. Ini kan gak benar ini yang begini-begini,” ungkap Amran.
Selisih Harga
Amran mengemukakan, sesuai data, ada selisih harga Rp 2,000 di tingkat penggilingan harga grosir atau eceran.
Jika produksi beras periode Januari-Juli 21 juta ton dikali Rp 2.000 per kilogram selisih harga, menjadi Rp 42 triliun.
”Itu yang didapat middle man (perantara atau mafia),” ucap Amran.
Amran mengatakan, jumlah tersebut tidak adil jika dibandingkan dengan pendapatan petani yang rata-rata hanya mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan.
“BPS mengatakan harga rata-rata beras di tingkat penggilingan turun Mei 2025, artinya apa? Ada middle man yang mempermainkan, inilah terkadang kita sebut mafia,” tambah Amran.
Ditinkalanjuti Satgas Pangan Polri
Masalah ini menurut Mentan, Satgas Pengawasan Pangan Polri akan menindaklanjuti kasus ini.
”Jangan mempermainkan, kita setengah mati ini berproduksi, kita setengah mati bantu petani. Petani kerja banting tulang di lapangan selama 3 bulan 4 bulan bekerja keras, terus dipermainkan,” ungkap Amran. ***













