MAKASSARCHANNEL, BENTENG SELAYAR – Sebanyak 56 calon guru penggerak angkatan 10 Selayar berbagi pengalaman dalam lokakarya pertama, Sabtu (4/5/2024).
Pada lokakarya di Aula SMK Negeri 1 Selayar itu, 56 Calon Guru Penggerak (CGP) terbagi dalam tiga kelas .
Pengajar praktik yang memandu CGP membagikan pengalaman setelah sebulan mengikuti pembelajaran Program Guru Penggerak.
Pengajar praktik yang mendampingi calon guru penggerak dalam lokakarya itu mengawali kegiatan dengan ice breaking untuk mencairkan suasana.
Permainannya kereta-keretaan. Kegiatan itu membuat semua peserta menjadi bersemangat dan larut dalam kegembiraan. Penuh canda.
Diskusi Kelompok
Kegiatan berlanjut dengan diskusi kelompok membahas nilai guru penggerak, peran guru penggerak, dan kompetensi guru penggerak. Diskusi lebih interaktif.
Seorang calon guru penggerak dari Pulau Jampea Kamaluddin berkisah, untuk mengikuti lokakarya di Benteng, Ibu Kota Kabupaten Selayar butuh perjuangan.
Pria tersebut menempuh perjalanan laut sembilan jam naik kapal kayu. Meski harus menempuh jarak yang relatif jauh, Kamaluddin tetap semangat.
Kamaluddin mengaku ada perubahan mendasar yang terjadi setelah sebulan menjadi calon guru peggerak, khususnya saat menghadapi murid-muridnya.
Jika selama ini, Kamaluddin cenderung memaksakan kehendak kepada peserta didik, sekarang tidak lagi. Pola pikirnya berubah.
“Peserta didik harus dituntun dalam belajar,” kata Kamaluddin.
Belajar Sesuai Kodrat Zaman
“Anak didik harus belajar sesuai kodrat zaman,” kata Kamaluddin, guru SD Lembongan Jampea, Selayar itu.
Kamaluddin mengungkapkan juga sebelum mengikuti pendidikan calon guru penggerak, dia mewajibkan peserta didik mengikuti peraturan yang dia buat. Kini berubah.
Peserta didik harus mematuhi tata tertib dalam kelas sesuai kesepakatan kelas yang dibuat bersama.
“Sehingga mereka lebih bertanggung jawab menjalankan kesepakatan kelas,” kata Kamaluddin.
Kolaborasi Sesama Guru
Tentang interaksi dengan koleganya sesama guru, Kamaluddin mengaku mengajak teman sejawatnya sesama guru untuk berkolaborasi berbagi praktik baik.
“Saya berbagi tentang pengetahuan yang saya peroleh sebagai calon guru penggerak. Kami bertukar gagasan mengembangkan strategi pembelajaran,” kata Kamaluddin.
“Kami juga berbagi sumber daya untuk menciptakan pembelajaran interaktif yang berpihak pada murid,” lanjut Kamaluddin.
Hal senada dikemukakan Kepala SD Tanabatu Andi Anita yang bertutur bahwa mengikuti pembelajaran calon guru penggerak, mengubah mindset-nya dalam menghadapi peserta didik.
Menurut Anita, sejak mengikuti program calon guru penggerak, dia gunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Mencoba memahami kebutuhan dan minat siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa. Tidak lagi sepeti sebelumnya.
Kesepakatan Kelas
“Sebagai contoh, setiap pertemuan kami selalu membuat kesepakatan kelas agar proses pembelajaran berjalan sesuai harapan,” kata Andi Anita.
Perempuan yang sebelumnya mengajar di SDI Benteng No 58 Selayar itu mengaku menanamkan disiplin ketat terhadap siswa.
“Dalam kegiatan ekstra kurikuler, saya selalu menanamkan disiplin waktu. Baik jam datang maupun jam pulang.”
Menurut Andi Anita, dengan diawali kebiasaan disiplin waktu maka menjadi awal yang baik di setiap pertemuan. (bas)













