BERITA TERKINIKOLOM

Teaterikalisasi Sanja Mangkasara

×

Teaterikalisasi Sanja Mangkasara

Sebarkan artikel ini
Matahari sudah condong ke barat, ketika panitia Workshop Teaterikalisasi Sanja Mangkasara, menyilakan peserta dan pemateri memasuki ruangan.

Matahari sudah mulai condong ke barat, ketika panitia Workshop Teaterikalisasi Sanja Mangkasara, menyilakan peserta dan pemateri memasuki ruangan, Minggu (10/8/2025).

Workshop hari kedua yang berlangsung di Aula Dewan Kesenian Makassar Kompleks Fort Rottrerdam Jl Ujungpandang, Makassar itu menghadirkan pemateri Damar I Manakku SS MHum.

Sehari sebelumnya, pemilik nama lengkap Rahmat Rani itu sudah membagi 35 peserta dalam dua kelompok.

Setelah menerima materi singkat, peserta workshop meninggalkan ruangan untuk melaksanakan tugas di area benteng yang cukup populer sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Makassar itu.

Pemateri meminta kedua kelompok tersebut memanfaatkan suasana di kawasan Benteng Rotterdam tersebut mencari inspirasi untuk membuat puisi.

Sekira 30 menit kemudian peserta yang sudah terbagi dalam dua kelompok besar itu berkumpul di halaman bagian utara Dewan Kesenian Makassar di Benteng Rotterdam Makassar.

Peserta workshop terlihat sibuk menerjemahkan dan mencatat beberapa narasi yang akan mereka pentaskan ke dalam bahasa Makassar.

Mereka terlihat serius, namun penuh canda. Apatah lagi, suasana menjelang sore itu sangat bersahabat. Mendung seolah memayungi peserta workshop dari sengatan Matahari.

Yudhistira Sukatanya, Syahrir Rani Patahkaki, Rahmat Soni, dan Damar, terlihat memandu peserta workshop menyelesaikan tugasnya yang sesekali meneriakkan beberapa bait puisi bernuansa perjuangan membahana di halama terbuka itu. Baik secara perorangan maupun dalam kelompok kecil.

Karena tidak semua peserta workshop memahami bahasa Makassar, maka pemateri memberi ruang membuat puisi dalam bahasa Indonesia kemudian dialihbahasakan bersama.

Damar mengaku kaget karena sebelumnya menganggap peserta workshop akan didominasi mahasiswa, ternyata ada juga ibu-ibu. Bahkan, ada juga yang berasal dari Maluku, namun sudah lama bermukim di Makassar.

Workshop Teaterikalisasi Sanja Mangkasara (Puisi Makassar) ini diinisiasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang dipercayakan kepada Syahril Ramli Rani.

Pamong Budaya Madya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX, Raodah SE MM membuka acara tersebut di hari pertama, mengapresiasi kegiata tersebut.

“Berdasarkan UU no 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan yang di dalamnya ada 10 obyek pemajuan kebudayaan dan salah satunya adalah sastra atau bahasa maka kami dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX memberikan amanah kepada saudara Syahril Ramli Rani untuk membawakan salah satu dari 10 obyek pemajuan kebudayaan,” tutur Raodah.

Apalagi, lanjutnya, para pemateri yang dihadirkan sangat pakar di bidangnya, sebutlah nama Drs. H. Andi Mahrus,M.Si, Drs.Eddy Thamrin, M.M (Yudhistira Sukatanya) serta Damar I Manakku.

Di hari pertama kegiatan, pemateri Mahrus Andis juga menyerahkan buku Dialog Tengah Malam.

Ia menyampaikan bahwa Sanja Mangkasara atau Puisi Makassar harus ditransformasikan dan ditularkan kepada generasi muda.

“Karena pentingnya workshop ini, maka harus ditransformasikan kepada generasi muda dan banyak yang bisa dilakukan melalui workshop ini,” tutur Andi Mahrus.

Penanggungjawab kegiatan Syahril Ramli Rani mengatakan, berharap melalui kegiatan bertema Penguatan Budaya Sulawesi Selatan Melalui Karya Sastra Sanja Mangkasara (Puisi Makassar) yang kreatif dan inovatif ini mencapai beberapa tujuan.

Output yang Syahril Ramli Rani maksud adalah; Meningkatkan pengetahuan dan minat masyarakat pada karya sastra sajak yang bernuansa budaya lokal;

Meningkatkan keterampilan masyarakat dalam membuat karya puisi berbasis budaya lokal. Serta Mendorong inovasi dan kreatifitas penampilan karya sastra sajak/ puisi melalui elaborasi sajak teatrikal yang menarik.

Termasuk menjadikan karya sastra berbasis budaya lokal sebagai tema-tema pembuatan dan penampilan karya sastra.

“Semoga Workshop ini juga ini dapat menjadikan Sanja Mangkasara lebih mudah dipahami dan diapresiasi oleh peserta,” kata Syahril Rani.

Ia juga menyampaikan bahwa para peserta berjumlah 35 orang, mulai dari mahasiswa, dari sanggar kesenian, komunitas serta ada dari masyarakat umum.

Rincian peserta itu, dari unsur mahasiswa 5 orang di antaranya 1 orang dari Institut Teknologi PLN, 4 orang dari UNM.

Sedangkan dari sanggar dan komunitas, yaitu 10 orang dari Sanggar Seni Bija Tau Tidung, 10 orang Komunitas Anak Pelangi (K-Apel), 5 orang dari Sinerji Teater.

Sedangkan dari masyarakat umum, ada 5 orang dari Antang dan Rappokalling,” ulasnya.

Sebelum menutup pengantar, Syahril juga mengutip salah satu Sanja’ Mangkasara yang berjudul Pappasang Tau Caraddeka.

Pappasang Tau Caraddeka

Purna Tena nutunruk-tunruk appilajarak
Nanupatajai kakuttuangnga
Patajai tongi kalennu
Angngemuki paccena kadongokkangnga
Paccobana tallasaka
Iyamintu salasaya
Tunruk-tunruka
Ankanyame wasseleka
Pannyokrinna tallasaka
Iyamintu paccobaya
Kasabbarangnga
Sakbina antu upaka
Ini aklamung-lamung
Iyaji antu akkatto
Aklamung-lamung
Tallasaka paklamungang***

*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM

Tinggalkan Balasan