“Katakanlah misalnya pelajaran Bahasa Indonesia bisa lewat daring. Tapi mungkin pelajaran seperti Matematika, Kimia, Fisika itu harus dengan model tatap muka. Kenapa, karena memang agak sulit guru-guru kita menjelasakan untuk bagian-bagian tertentu yang membutuhkan penjelasan,” katanya.
Makanya, mapel yang bisa diajarkan bisa segera dipetakan dengan menyesuaikan waktu pembelajaran yang singkat.
Berita Terkait :
Wali Kota Palopo Belum Izinkan Sekolah Tatap Muka
“Tidak mungkin semua itu bisa dilakukan dengan model tatap muka. Apalagi kalau cuma dua hari dalam sepekan,” ujar Jufri.
Dikatakan pula, Dinas Pendidikan Sulsel telah melakukan survei kesiapan menyambut Pembelajaran Tatap Muka. Hasilnya, dari 47.874 responden yang dimintai tanggapan, sebanyak 98 persen siswa SMA/SMK menyatakan siap mengikuti Pembelajaran Tatap Muka.
Dari survei tersebut disimpulkan, siswa menginginkan pembelajaran tatap muka karena dianggap jauh lebih efektif ketimbang belajar online.
Rencananya, penyiapan PTM pun akan dikerjasamakan dengan United Nations Children’s Fund (UNICEF).
Menurut Jufri, salah satu organisasi PBB itu siap ikut berkontribusi dalam pencegahan penularan Covid-19 khususnya siswa, agar tidak terjadi klaster baru di sekolah.
“Jadi saya kira keterlibatannya nanti di situ. Membantu pihak sekolah dengan membangunkan kesadaran baik kepada siswa maupun orang tua, untuk tetap menjaga standar protokol Covid-19,” jelas Jufri. (her)













