Mohammad Hasan mengunkapkan juga bahwa hingga saat ini Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DK) Sulsel sudah membangun 242 titik baca bernama perpustakaan lorong.
“Untuk membangun satu titik tidak murah. Tantangannya adalah bagaimana maintennance-nya,” katanya.
Bedah Buku
Sebelum Suradi Yusil dan Mahrus Andis menggunakan pisau bedahnya, penulis Buku Denyut Nadiku, Muhammad Amir Jaya, mengawalinya dengan melantunkan Salawat.
Bedah buku antologi puisi setebal 70 halaman itu memunculkan beragam komentar. Umumnya memuji kemampuan Muhammad Amir Jaya memanfaatkan ruang batin dalam berkarya.
Berita Terkait :
Kadis Perpustakaan Sulsel Mohammad Hasan Bilang Profesi Penulis Perlu Dihargai
Dia melakukan geledah diri dan menyatakan kerinduannya pada Sang Maha Pencipta melalui puisi-puisinya. Puisi tak akan pernah mati karena dia lahir dari jiwa yang paling dalam.
Mahrus Andis menyebut salah satu puisi Amir Jaya yang memuji Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel sebagai pakkewa. Dorongan melalui kekuatan batin.
Penyair yang juga kritikis sastra kelahiran Bulukumba ini mengatakan, tidak semua pejabat yang punya ruang kebatinan, kecuali mereka yang diberi ruang batin oleh-Nya. (res)













