Senyum semringah tujuh perempuan menyambut rombongan Ekspedisi Berbagi Cinta Komunitas Anak Pelangi, Kamis, 18 Desember 2025, menjelang siang. Mereka memang sudah mendapat informasi perihal kedatangan kami, ke sekolah papan itu. Maksudnya, sekolah berlantai dan berdinding papan.
Mereka guru dan tenaga kependidikan yang mengabdi di SD Negeri 61 Terapung Kampung Pattallassang, Jalan Boddia, Kelurahan Bontokio, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Rombongan yang datang ke sekolah tersebut antara lain; Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas Prof Muhammad Asdar, Founder Komunitas Anak Pelangi Rahman Rumaday.
Hadir pula dua srikandi organisasi Pengusaha Nulis Buku Indonesia (Penbis) Heny Suhaeni dan Wanti Eldrin, jurnalis Arwan Rusli yang populer dengan sapaan Daeng Awing, serta Akbar, plus Rusdy Embas.
Ekspedisi ini datang berbagi untuk anak-anak sekolah dan guru. Mengantarkan amanah titipan donatur melalui Rumah Zakat Sulawesi Selatan. Ada bahan pangan, buku, dan peralatan sekolah lainnya.
Di bangunan seukuran lapangan basket itu, 39 anak merajut masa depan. Setiap ruangan bangunan beralaskan dan berdinding papan disekat menjadi dua kelas bagi anak-anak tersebut.
Sekolah itu mulai beroperasi, 19 April 2019. Kepala SDN 61Kampung Pattallassang, Murni SPd, mengatakan, kepala sekolah yang merintis sekolah tersebut sudah pindah tugas. Murni merupakan kepala sekolah kedua di SDN itu.
Kondisi sekolah tersebut cukup memprihatinkan. Berada di sekolah itu serasa berkunjung ke daerah terpencil. Meski jarak dari jalan poros Makassar-Parepare relatif dekat, namun akses jalan tidak baik-baik saja.
Kendati terkesan di pelosok, saat menjelang Salat Lohor, gema suara azan dari dua masjid di luar kampung tersebut, terdengar jelas di sekolah itu.
Setelah melewati terowongan di bawah lintasan kereta api, adrenalin sopir terpacu karena lebar jalanan hanya cukup untuk satu mobil saja. Beruntung, saat itu tidak berpapasan dengan mobil lain. Langit pun, sepertinya merestui sehingga jalanan yang dilewati tidak becek karena tak turun hujan.
Setelah bersalaman dengan para guru di ujung tangga setinggi satu meteran, mata saya tertumbuk kepada jejeran rapi sandal di lantai sebelah kiri koridor.
Rupanya, setiba di sekolah, anak-anak melepas sandal masing-masing mengenakan sepatu, sehingga ruangan kelas tidak kotor.
Ruangan pertama yang saya kunjungi, gabungan kelas lima dan kelas enam. Dua kelas itu dibatasi sekat setinggi satu setengah meter. Kelas enam berisi enam murid dan kelas lima diisi tiga siswa.
Saat itu saya iseng menguji kemampuan akademik mereka dengan mengajukan pertanyaan, “Siapa hapal Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Bagi yang hapal secara berurut saya beri hadiah.”
Setelah hening tak sampai sepeminum teh, seorang anak mengacungkan tangan. Hanya saja, murid kelas lima itu tidak bisa menjawab tepat. Tetapi ketika guru minta siswa itu menyanyikan lagu ciptaan Benny Hermanto tentang Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat itu, mereka bisa. Dan saya pun menyerahkan hadiah kepada anak tersebut.
Bincang Ringan
Di dalam ruangan seukuran tiga kali empat meter, rombongan berbincang ringan dengan kepala sekolah, sembari menikmati penganan khas kampung tersebut. Suasana terasa akrab.
Murni mengisahkan perjuangannya membenahi sekolah yang berhalaman hamparan air payau tersebut. Kebersihan dan etika menjadi fokus di awal pengabdian Sang Kepala Sekolah di kampung yang semula bernama Kampung Paracung itu.
Dia mengaku bersyukur, karena perjuangannya bersama para guru dan tenaga kependidikan membuahkan hasil. Anak-anak sudah relatif bersih dan memiliki etika yang lebih baik dari sebelumnya.
“Walaupun, sekolah ini masih jauh dari kata layak untuk sebuah sekolah, apalagi letaknya tak jauh dari Kota Kabupaten, namun sekolah ini cukup rapi dan bersih,” klaim Murni.
Meski tidak memiliki lapangan upacara layaknya sekolah pada umumnya, Murni mengatakan, sekolah terapung itu tetap melakukan upacara memanfaatkan jalan menuju ke sekolah sebagai lapangan upacara. Hanya saja tak ada prosesi pengibaran Sang Saka Merah Putih, karena bendera sudah dinaikkan sebelum upcara.
Di sela perbincangan, saya iseng mengintip lembaran buku tamu. Saya tidak menemukan informasi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkep sebagai pengunjung di sekolah yang mulai beroperasi, 19 April 2019 itu.
Mungkin belum sempat teragendakan, walau jaraknya relatif dekat. Pikiran itu muncul, karena penghujung tahun lalu, saya bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkep dalam suatu kunjungan kawasan Liukang Tangaya Pangkep yang letaknya cukup karena baru bisa sampai setelah menempuh 36 jam perjalanan menggunakan jasa kapal Sabuk Nusantara.
Artinya, jika sekolah di lokasi terjauh dengan tantangan relatif sulit bisa dikunjungi, seharusnya sekolah sedekat itu bisa menjadi objek kunjungan juga.
Air Mata Tim Ekspedisi
Pertemuan kemudian ke ruangan yang lebih luas untuk proses penyerahan bantuan kepada murid dan guru. Murid secara bergilir menerima bantuan titipan donatur.
Bang Maman, sapaan akrab Founder Komunitas Anak Pelangi yang memandu pertemuan tersebut, mengawali kegiatan dengan pemberian hadiah kepada murid yang mampu menjawab pertanyaan.
Sudah menjadi kebiasaan dalam berbagai pertemuan serupa, pria berkacamata itu akan memberikan hadih kepala murid yang menghapal beberapa Kalam Ilahi.
Awalnya, seorang siswa berani tampil ke depan, namun tak jadi menjawab. Sontak, seorang siswi kelas satu mengacungkan tangan. Dia pun tampil ke depan. Meski agak cadel namun siswi hapal salah satu surah Alquran. Dan Bang Maman memenuhi janjinya memberikan hadiah.
Di luar dugaan, siswi kelas satu yang duduk berdampingan dengan kakaknya yang sudah di kelas enam, ternyata anak yang yatim. Bapaknya, baru saja meninggal, sementara sang ibu saat ini bekerja sebagai karyawan di salah satu rumah makan. Kini, kedua kakak-beradik itu tinggal bersama kakek-neneknya.
Tim ekspedisi diliputi mendapat informasi detail terkait perjuangan kedua kakak-beradik itu. Meski tak ada tangis yang pecah, namun samar terlihat genangan air di sudut mata mereka.
Di momen itu, Prof Muhammad Asdar yang juga Pembina Penbis menyerahkan bantuan uang tunai untuk pembangunan sekolah. Dia terharu dengan keadaan sekolah ini.
“Ternyata saat ini, masih ada sekolah yang dinding dan lantainya dari kayu. Dan ini tempatnya cukup dekat dari ibukota Kabupaten,” ungkapnya prihatin.
Ia mengaku bahwa keikutsertaannya ini, tanpa rencana sebelumnya.
“Saya melihat agenda hari ini, ternyata kosong, maka dari itu saya lalu menelpon ibu ketua (Heny) agar dapat ikut serta dalam melakukan kunjungan ke Pangkep. Dan ternyata, kunjungan ini sangat bermanfaat, karena dapat melihat secara langsung SDN 61 Terapung di Kabupaten Pangkep,” kata Prof Asdar.
*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM













