Tidak hanya kue taripang, ada banyak kue lain yang dibawa oleh guru dan siswa. Antara lain, roko-roko unti, roko-roko cangkuning, barongko, cucuru bayao, sanggara’ balanda, apang, putu cangkir, dan bolu cukke’. Kue-kue itu diletakkan di atas nampan, sebelum dicicipi bersama.
Baliho yang tersebar di sudut-sudut Kota Makassar dan poster yang beredar di media sosial, bergambar Wali Kota Mohammad Ramdhan Pomanto dan Wakil Wali Kota Fatmawati Rusdi, memang bertuliskan “minum kopi dan makan kue taripang” disertai tulisan Aku Cinta Makassar.
Berita Terkait :
Danny Bakal Hadirkan Sport Centre Di Makassar
Bakhtiar mengakui, momen ulang tahun Kota Makassar kali ini berbeda. Bukan hanya di sekolah, orang minum kopi dan makan kue taripang tapi juga di RT/RW.
Sebelum ke sekolah, katanya, dia sempat singgah ngopi dan makan kue taripang di RW 07 Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala. Di situ, warga ngopi bersama sekira pukul 07.30-09.00 wita, baru lanjut ke sekolah yang terletak di Kelurahan Pampang, Kecamatan Panakkukang.
Perayaan HUT Kota Makassar tahun ini, jadi momen mengangkat budaya lokal lewat kuliner dan busana yang dikenakan. Taripang punya sejarah panjang dengan Makassar. Para pelaut asal daerah ini sejak lama terkenal sebagai pencari teripang, hingga ke benua Australia.
Kepada siswa yang sempat bertatap muka dengan guru, disampaikan tentang budaya dan perkembangan Kota Makassar yang kini menjadi Smart City. Pembelajaran hari itu merupakan bagian dari pendidikan karakter berbasis budaya lokal, Bugis-Makassar. (her)













