BERITA TERKINIEKBIS

Mengintip Keindahan Alam Lampeso Dan Giat Petambak Udang Windu Di Kala Senja (2)

×

Mengintip Keindahan Alam Lampeso Dan Giat Petambak Udang Windu Di Kala Senja (2)

Sebarkan artikel ini

Cukup banyak kelompok udang melakukan parade, mungkin mengikuti cahaya senter yang dibawa Rombo, atau mungkin parade udang-udang tersebut mengekspresikan kegembiraan kepada Rombo yang secara rutin memberi makan.

Rombo mengatakan, “Saya sangat menikmati pekerjaan ini. Rasa cape hilang seketika, saat melihat udang bermain dengan girang dalam tambak, itu pertanda kondisi sehat walafiat.”

Secara singkat Rombo menjelaskan metodologi budidaya udang ala Alimuddin Namba, yaitu sistim tertutup.

Baca Juga :
Terkait Kasus Penganiayaan oleh Anggota Legislator di Bone, Ini Kata Humas Polda Sulsel

Yang pasti ada penambahan air ke dalam tambak bisa akan tetapi pada hari ke 45 pintu air ditutup (diblock). Dan harus dipastikan tidak ada kebocoran.

Pada saat udang berumur 56 hari, diberi dedak paling halus yang telah difermentasi. Sesudah itu baru bisa diberi dedak kasar yang juga sudah difermentasi. Sebetulnya, hingga hari ini saya belum mendapat jawaban secara detail alasan apa sehingga tambak harus ditutup.

Satu hal yang saya ketahui dengan pasti adalah, dalam kondisi kemarau maupun penghujan seperti saat ini, dasar tambak tetap dingin. Hal itu, dibenarkan juga oleh Kusbin Ali Daeng Empo mentornya Rombo.

Saya pun sempat menanyakan alasan tambak ditutup, kepada Alimuddin Namba, namun Alumni Fakultas Perikanan dan Peternakan tahun 1990 ini, hanya tersenyum menjawab singkat, “Nanti saatnya, baru saya bicara secara detail mulai dari penyiapan lahan hingga panen. (Muhammad Said Welikin/Bersambung).

Tinggalkan Balasan