Informasi yang disampaikan Empo, benar adanya, tambak yang luasnya kurang setengah hektare yang digarap Rombo nampak rombongan burung walet terbang dengan riangnya, saya yang berjalan di pematang tak digubris. Bahkan, nyaris satu, dua ekor walet menabrak diriku.
Sebelum tiba di gubuk bambu beratap daun nipa, tempat Rombo menyimpan pakan udang, sebelah barat ada empat ekor bangau putih dua besar dua lainya kecil mungkin satu keluarga, nampak santai, menikmati terbenamnya sang surya.
Entah apa yang sedang “dibicarakan” keluarga kecil bangau putih ini, kadang secara serentak mengepak sayapnya kemudian membenamkan paruh yang mirip pedang ke dalam air. Sesekali mereka melompat mengejar ikan kecil yang sedang muncul ke permukaan air.
Baca Juga :
Yenni Wahid Masuk Garuda, Ini Penjelasan Erick
Suasana tenang dan damai semakin sempurna, saat sayup-sayup terdengar panggilan Ilahi dari to’a mesjid Nur Aspari Bungunbarania sebagai pertanda waktu Salat Magrib sudah tiba. Para pengembala membawa pulang ternaknya begitu juga petani maupun petambak meninggalkan kegiatannya demi menunaikan kewajiban Salat Magrib.
Masih ada cahaya lembayung, Rombo masuk ke dalam tambak menangkap beberapa ekor udang windu untuk sampling, sesudah itu lelaki berperawakan ceking itu mengitari tambak memberi makan pada udang windu peliharaannya.
Sesudah itu, saya pun berbincang-bincang dengan Rombo ditemani Empo dan Abdul Basir Daeng Se’re. Namun sebelumnya, Rombo mengajak saya mengitari tambak menyaksikan “parade” udang windu peliharaannya. Terlihat mata udang seperti menyala diterpa cahaya senter, nampak sebagian cuek dengan kehadiran kami, sebagian lagi “malu-malu kucing” dengan gerakan mundur perlahan meninggalkan kami.














