Tantangan masa depan tidaklah semudah hidup di Abad 21, tidak cukup hanya berbekal bisa baca, tulis dan berhitung (Calistung). Setiap orang dituntut menguasai literasi digital, literasi keuangan, literasi sains, literasi kewargaan dan kebudayaan.
“Gerakan pemberantasan butuh huruf mungkin akan segera bergeser menjadi gerakan penguasaan enam dasar literasi tersebut,” kata Menteri Muhadjir.
Mendikbud mengimbau seluruh pemerintah propinsi, kabupaten, dan kota seluruh Indonesia untuk menyelenggarakan peringatan hari aksara Internasional di daerah masing-masing, karena itu sangat penting untuk menguatkan kembali komitmen bersama pemerintah dan seluruh komponen masyarakat dalam memberantas buta aksara dan menguatkan tekad membangun sumberdaya manusia yang berdaya saing tinggi pada abad 21.
Baca Juga :
Kasrem Sampaikan 7 Amanat Pangdam XIV/Hsn Saat Pimpin Upacara Bendera di Makorem 141/ Toddopuli
“Presiden Jokowi telah menggariskan bahwa prioritas pembangunan Indonesia pada lima tahun depan tahun ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia,” kata menteri.
“Saya juga menghimbau kepada seluruh keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama mengembangkan dan menguatkan budaya literasi. Para orang tua perlu mengenalkan buku sejak dini. Sediakan waktu untuk membaca buku atau ceritera kepada anak-anak kita,” katanya.
Sekolah harus berperan aktif mengadakan berbagai kegiatan literasi siswa. Masyarakat dapat mengambil peran dengan ikut menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya bisa budaya literasi.
Sebelumnya, Dirjen PAUD dan Dikmas, Harris Iskandar melaporkan, berdasarkan data BPS tahun 2018, angka buta aksara di seluruh Indonesia tersisa 1,93 persen (3.290.490 orang). Jumlah angka buta aksara tersebut merupakan sasaran yang tidak mudah diselesaikan karena berada di kawasan terpencil dan notabene susah dijangkau. Namun kita harus bertekad untuk menurunkan buta aksara hingga 0 persen. (kin)













