“Alhamdulillah, pada tahun ini, kita bahkan telah berhasil menekan angka buta aksara lebih rendah lagi, hingga 1,93 persen (atau 3,2 juta orang ), menurunkan dari 2,07 persen (atau 3,4 juta orang ) pada tahun sebelumnya,” kata Mendikbud.
Meskipun jumlah buta aksara di negara kita suda menurun, lanjut menteri, bukan berarti gerakan nasional pemberatasan buta aksara sudah selesai. Tugas kita bersama untuk menuntaskan buta aksara dan membebaskan bangsa ini dari kebutaaksaraan harus terus dilakukan.
Baca Juga :
Polda Sulsel Periksa Kadis Pertanian Takalar
Pemberansan buta aksara pada segmen populasi ini sangat sulit, tetapi profilnya semakin jelas. Yaitu, mayoritas berada di Indonesia bagian timur, tinggal di perdesaan, dan di kantong-kantong kemiskinan. Umumnya perempuan dan umurnya di atas 45 tahun.
Menurut data BPS tahun 2018, terdapat enam provinsi di Indonesia dengan angka buta aksara lebih dari 4 persen, yaitu Papua (22,88 persen), Nusa Tengara Barat (4,63 persen), Nusa tenggara Timur (5,24 persen), Sulawesi Barat (4,64 persen), Sulawesi Selatan (4,63 persen), dan Kalimatan Barat (4,21 persen).
“Jika ke enam provinsi ini dapat memberantas buta aksara di daerahnya masing-masing maka angka buta aksara di Indonesia akan menurun secara signifikan. Jika mampu membebaskan diri dari buta aksara secara keseluruhan maka kita bisa berharap kualitas sumber daya manusia di seluruh Indonesia akan semakin meningkat,” kata Mendikbud.













