Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Muhammad Syarif Bando yang terhubung secara virtual mengatakan, literasi tidak hanya sebatas baca-tulis. Literasi merupakan kecakapan yang menjadi parameter kemajuan suatu daerah.
“Jika daerah tersebut literat akan dipastikan masyarakatnya sejahtera. Kita tidak perlu lagi khawatir dengan angka pengangguran,” katanya.
Dalam islam pun, ungkapnya, memuat ajaran yang menyoroti perintah membaca. Dalam konteks ini, membaca tidak hanya merujuk pada membaca Alquran, tetapi juga pada membaca dan menuntut ilmu secara umum.
“Dalam Alquran menekankan membaca adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Melalui membaca dan mencari ilmu, umat Islam dapat memperkuat iman dan memperbaiki kehidupan mereka,” ujar Syarif.
Dalam kegatan ini pula Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Muhammad Syarif Bando bahkan menghadiahkan 14 juta judul buku kepada Kabupaten Maros.
Baca Juga :
Bupati Chaidir Syam Hadiri Musda XI Muhammadiyah dan Maros
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Maros melaporkan bahwa tujuan melalui seminar ini diharapkan bisa meningkatkan usaha kesejahteraan masyarakat melalui tahapan-tahapan literasi.
Tahapan literasi dimaksud meliputi kemampuan membaca, kemampuan aksebilitas, kemampuan memahami, kemampuan mengemukakan ide, serta kemampuan menghasilkan barang dan jasa yang bermutu serta promosi tentang perang strategi perpustakaan tehadap kesejahteraan masyarakat yang dilakukan secara langsung melalui promosi yang bersifat informatif, komunktif dan edukatif.
Hadir dalam seminar ini, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan Parenrengi, Ketua Umum Pimpinan Pusat IKA BKPRMI Andi Kasman, Abdullah Sanneng sebagai pemateri dari Perpustakaan Nasional.
Sebagai informasi, seminar diikuti 10.000 peserta virtual zoom dan 150 peserta offline. Meliputi pengurus BKPRMI Maros, Alumni BKPRMI, penggiat literasi, Duta Baca AMTI Maros, pengelola perpustakaan desa dan pengelola perpustakaan sekolah. (nal)













