BERITA TERKINIEKBIS

Mantan Anggota DPRD Sulsel Kagumi Teknik Budidaya Udang Windu Di Takalar

×

Mantan Anggota DPRD Sulsel Kagumi Teknik Budidaya Udang Windu Di Takalar

Sebarkan artikel ini

Mendengar pertanyaan di sela-sela penjelasannya itu, Dg Rombo terdiam sejenak. Kemudian melanjutkan kalimatnya, “Tidak apa-apa kalau bicara jujur?”

Yang direspon Lakama dengan kalimat singkat, “Silakan.”

Dg Rombo berturtur secara detailnya. Tambak dicuci dengan sabun rinso. Caranya, disiram dengan air sabun, kemudian masukan air ke dalam tambak hingga setinggi 60 centimeter. Kemudian airnya dikeluarkan. Setelah itu, dimasukkan lagi dan dibuang lagi, hingga tiga kali. Air yang dimasukkan untuk ketiga kalinya, disimpan dan harus dijaga ketat agar tidak bocor.

“Selanjutnya, air yang disimpan itu dikasih gula, simbiotik, dan beberapa bahan lainya. Setelah warna air bagus dan terlihat mulai tumbuh plankton. Biasanya, butuh waktu tujuh hari. Benih dikeluarkan dari gelondongan dan dimasukkan ke dalam kolam pembesaran yang sudah disiapkan itu,” urai Rombo.

Berita Terkait :
Mengintip Keindahan Alam Lampeso Dan Giat Petambak Udang Windu Di Kala Senja (2)

Menjawab pertanyaan Lakama, tentang lamanya waktu yang digunakan untuk pemeliharaan dan bagaimana perlakuan terhadap udang setelah ditebar di kolam pembesaran, serta zise udang yang dihasilkan.

Dg Rombo mengatakan, “Hari ke-37, barulah dilakukan pemberian pakan. Karena tambak ini luasnya hanya 4 are untuk kebutuhan 20 ribu ekor benur yang ditebar, pemberian pakan untuk pertama kalinya jumlahnya hanya 5 kilogram.”

“Pemberian pakan selanjutnya, disesuaikan dengan kondisi udang hingga masa panen tiba. Pengalaman sebelumnya menunjukkan, panen akan dilakukan setelah 80 hari pemeliharaan di kolam pembesaran dengan zise 33,” urai Dg Rombo.

Mendengar detail penjelasan Dg Rombo, diskusi kian intens. Lakama menanyakan model penampungan benur dalam gelondongan yang dinilainya kurang efisien jika dibandingkan dengan menggunakan sistem jaring.

“Kalau pakai jaring, bila ada angin yang menerpa akan terjadi goncangan pada dinding jaring, sehingga bibit udang menjadi stres dan pada saat diambil ada bibit yang tertinggal di dinding jaring,” jelas Rombo.

Tinggalkan Balasan