MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Makassar siaga bencana, BPBD siapkan SK darurat banjir sebagai langkah antisipasi mengatasi dampak yang mungkin timbul.
Menyusul peringatan dini yang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar sampaikan, Pemkot Makassar juga mengeluarkan peringatan tentang siaga bencana akibat cuaca ekstrem, Jumat (12/1/2024).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin mengatakan, Pemkot Makassar menetapkan status siaga bencana.
“Informasi BMKG sudah ada per hari ini. Selain permintaan siaga besok, arahan pak wali tingkatkan kesiagaan. Jadi BPBD siapkan SK darurat banjir,” ungkapnya.
Dengan status tersebut, lanjut Achmad Hendra seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Pekerjaan Umum, dan yang lain harus bersiap.
Cuaca Ekstrem
Cuaca ekstrem untuk wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Makassar bakal terjadi hingga Sabtu (13/1/2024). Potensi curah hujan lebat akan menyebabkan terjadinya bencana hidrometeorologi.
Seperti banjir rob (pasang air laut) dan genangan pada dataran rendah di kawasan perumahan.
Angin kencang yang berpotensi menimbulkan pohon tumbang, alat reklame dan tiang tinggi. Empat kecamatan yang wilayah masuk rawan banjir di Makassar adalah; Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, dan Panakkukang.
“Tapi berdasarkan pengalaman tahun lalu, banjir terjadi hampir di seluruh kecamatan. Jadi kita tidak bisa berpatokan dengan empat kecamatan itu,” kata Hendra.
Sebelumnya, Wali Kota Makassar Danny Pomanto mengatakan, ada sejumlah titik yang menjadi langganan banjir di Kota Makassar.
Wilayah itu kata Danny masuk dalam klasifikasi persoalan tata ruang berat, karena tempatnya air yang dijadikan pemukiman sehingga penanganannya harus penanganan teknis, misalnya dengan pompa.
Siapkan Pompa
“Pompa juga itu akan berfungsi kalau sungai-sungai tidak dalam keadaan tinggi,” ucap Danny di Balai Kota Makassar Jl Ahmad Yani, Selasa (9/1/2024).
Makanya, sungai-sungai yang ada harus mendapat perhatian serius. Peremajaannya harus rutin agar tidak meninggalkan bahaya di musik hujan.
“Jadi, salah satu maksimalitas adalah sungai-sungau diperbaiki, digali supaya kapasitas daya tampung tinggi sehingga air keluar. Persoalannya, kita tidak ada otoritas untuk menggali, otoritasnya balai,” jelasnya. (ade)













