MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – LAN percepat transformasi layanan publik lewat Forum PETIS, sehingga inovasi tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi cara kerja birokrasi.
Itu salah satu benang merah yang mengemuka dalam PETIS (Performance Talk Series) Seri IX yang Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Pemerintahan (Pusjar SKMP) LAN RI, Jumat, 13 Februari 2026, di lobi teras depan.
Humas Pusjar SKMP LAN Makassar, Adekamwa, melalui rilis menyampaikan, kegiatan tersebut mengusung tema Transforming Public Service Through Governance Innovation.
Topik yang terasa relevan di tengah tuntutan publik atas layanan yang cepat, tepat, dan berdampak.
Forum ini tak sekadar diskusi internal, tetapi menjdi ruang belajar bersama tentang bagaimana tata kelola pemerintahan bisa diubah agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Jadikan Inovasi Sebagai Cara Kerja
Suasana pagi itu santai, tetapi diskusi berjalan fokus dan hidup. Di antara peserta tampak Kepala Pusjar SKMP LAN, Dr Muhammad Aswad, mengikuti paparan dan dialog secara aktif.
Hadir pula pegawai serta peserta Program Magang Nasional Kemnaker Batch 3 di lingkungan Pusjar SKMP LAN Makassar.
Narasumber utama, Avrina Dwijayanti SIP MPhil, membagikan pengalaman mengikuti Short Course Governance Capacity Building: Leveraging Innovation for Effective Public Service – Transforming Public Service through Governance Innovation yang diselenggarakan oleh National Academy of Governance di Republik Rakyat Tiongkok
pada 17–26 November 2025.
Bagi Avrina, pelajaran paling kuat dari kegiatan tersebut adalah cara memposisikan inovasi.
“Tema besar yang kami pelajari adalah bagaimana inovasi tidak berhenti pada gagasan, tetapi dilekatkan langsung pada sistem kerja birokrasi.”
Dia melanjutkan, “Inovasi di sana diposisikan sebagai alat untuk memastikan pelayanan publik benar-benar efektif dan terukur.”
Seek Truth from Fact
Ia melihat pendekatan pelatihan yang sistematis dan berorientasi praktik. Lembaga pelatihan di Tiongkok, yang memiliki mandat serupa dengan LAN, tidak berhenti pada teori.
“Arah seluruh desain pembelajaran untuk memperkuat kapasitas governance melalui praktik. Bukan sekadar teori,” kata Avrina.
Prinsip seek truth from fact and avoiding empty talks menurut Avrina menjadi catatan penting.
Menurut Avrina, prinsip itu diterjemahkan dalam kegiatan yang efektif, efisien, dan minim seremoni. Energi organisasi diarahkan pada substansi pelayanan.
Ia juga menekankan bahwa transformasi pelayanan publik tidak bisa dilepaskan dari struktur pemerintahan yang adaptif.
Transformasi pelayanan publik melalui inovasi tata kelola terlihat dari struktur pemerintahan mereka yang bersifat dinamis.
Struktur itu bisa menyesuaikan kebutuhan masyarakat, sehingga inovasi menjadi bagian dari mekanisme, bukan pengecualian.
Bagi Avrina, leveraging innovation berarti memaksimalkan seluruh sumber daya—pengetahuan, teknologi, hingga budaya kerja—untuk memperkuat dampak pelayanan.
“Inovasi dipandang sebagai tanggung jawab kolektif birokrasi, bukan proyek individual,” tutur Avrina.
Layanan Lebih Berkualitas
Diskusi yang dipandu Fenty Kusuma W SPsi, dari Bagian SDM, memberi ruang dialog terbuka.
Sehingga peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga mengaitkan praktik di luar negeri dengan tantangan pelayanan publik di dalam negeri.
Pada titik inilah urgensinya terasa. PETIS Seri IX menegaskan arah transformasi LAN menuju Bigger, Smarter, Better.
Lebih besar dalam peran strategis membangun kapasitas ASN, lebih cerdas dalam metode pembelajaran yang adaptif dan berbasis praktik, serta lebih baik dalam mendorong tata kelola yang efektif dan berdampak.
Tujuan akhirnya, menghadirkan aparatur yang kompeten agar pelayanan publik benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Inilah wujud nyata komitmen “ASN Kompeten, Rakyat Sejahtera” ketika inovasi dikelola secara kolektif, sistem diperbaiki secara berkelanjutan, dan pelayanan publik hadir lebih cepat, tepat, dan berkualitas bagi masyarakat. ***













