MAKASSARCHANNEL, BONTOBAHARI BULUKUMBA – Belasan anak muda yang berhimpun dalam Komunitas SIKAMASEANG Bontobahari Bulukumba berbagi sembako.
Mereka membantu warga kurang mampu yang terdampak pandemi virus corona yang sedang mewabah di negeri ini.
Ketua Komunitas SIKAMASEANG, Azizul, mengatakan, pembagian paket tersebut merupakan kegiatan pertama yang dilakukan komunitas yang baru berdiri beberapa bulan lalu ini.
Jumlah paket yang dibagi pun, masih relatif sedikit. Hanya 30 paket yang berisi antara lain, gula pasir, minyak goreng, telur, terigu, kopi, dan teh.
Donatur
Dana untuk pengadaan bantuan ini diperoleh dari sejumlah donatur dari berbagai daerah. Penyumbangnya, tidak hanya dari warga Bulukumba saja, tetapi ada juga yang mengirimkan bantuan dari luar Sulsel.
“Boleh dikatakan, sumber dana pembelian bahan kebutuhan pokok yang disumbangkan oleh komunitas itu, berasal dari donatur di seluruh Indonesia. Bahkan, ada donatur dari luar Sulawesi yang ikut menyumbang untuk mendukung aksi sosial ini,” kata Azizul.
Tonton Videonya:
Dikatakan, karena kondisi saat ini sedang terjadi pandemi Covid-19, anggota komunitas SIKAMASEANG tidak bisa turun langsung menggalang dana dari masyarakat, sehingga fokus menghimpun dana secara online dengan cara memasang pamflet mensosialisasikan cara memutus mata rantai penyebaran virus corona.
“Dan … Alhamdulillah, kami bisa menghimpun dana. Dan yang paling penting adalah, tidak ada sumbangan berbau politik dalam kegiatan komunitas ini,” kata Azizul meyakinan.
Sosialisasi Secara Online
Azizul mengatakan, rencana aksi sosial berbagai sembako itu disampaikan komunitas secara online dengan cara memasang slayer berisi sosialiasi bagaimana menghambat atau memutus mata rantai penyebaran virus corona.
Dia mengatakan, program bagi-bagi sembako dari komunitas SIKAMASEANG ini diberikan kepada 30 warga kurang mampu secara ekonomi yang tersebar, di Kelurahan Sapolohe, Tanahlemo, dan Tanahberu. Di kelurahan lain belum sempat terlayani.
Saat berbagi sembako, komunitas ini juga memanfaatkan kesempatan memberi pemahaman tentang bahaya Covid-19 dan cara menghindari/ mengatasinya.
Mereka diberi pemahaman menggunakan bahasa Konjo yang merupakan dialek khas masyarakat yang bermukim di Bulukumba bagian timur.
Slayer yang dibuat pun menggunakan dialek Konjo sehingga lebih mudah dipahami warga lokal.

Sebagai informasi, ada delapan anggota inti komunitas ini dengan tiga dewan pembina. Ke-delapan anggota inti itu merupakan perwakilan dari masing-masing kelompok yang berhimpun.
Kelompok itu sudah lama ada di Tanaberu Bontobahari, namun kegiatannya masih berjalan sendiri-sendiri.
Empat kelompok pemuda dan pemudi di Bontobahari yang sepakat berhimpun untuk melakukan kegiatan sosial berskala lebih besar dan terpadu itu Komunitas Bantilang, MFC, klub sepakbola Warna Utama, dan kelompok pemuda/ pemudi KOPASEK.
“Yang delapan orang anggota inti Komunitas SIKAMASENG itu, adalah perwakilan masing-masing kelompok yang berhimpun. Tiap kelompok, diwakili dua orang,” kata Azizul.
Kendati hanya ada delapan pengurus inti secara formal, namun jika ada kegiatan sosial yang dilakukan, maka semua anggota dari empat kelompok yang berhimpun tersebut, akan ikut ambil bagian sehingga banyak orang yang terlibat dan kegiatan lebih cepat selesai.
“Anggota inti yang delapan orang itu dan empat komunitas akan ikut ambil bagian sehingga banyak yang turun mengerjakan saat kegiatan digeelar,” katanya. (zul)














