MAKASSARCHANNEL, KUALA LUMPUR – Pemilihan mahasiswa Universitas Malaya di Kuala Lumpur, Malaysia, atau dikenal Pemilihan Raya Kampus (PRK) Universitas Malaya, berujung kisruh.
Pihak universitas terkemuka di Malaysia ini diduga melakukan campur tangan melalui Jabatan Pilihan Raya Kampus Universiti Malaya (JPRKUM).
JPRKUM adalah badan penyelenggara pemilihan umum mahasiswa Universitas Malaya atau semacam KPU pada pemilihan umum di Indonesia.
Wakil Koordinator Demokrat Malaya, salah satu fron mahasiswa peserta pemilu mahasiswa, Amil Wong kepada Makassarchannel menjelaskan, JPRKUM mendiskualifikasi calon mereka dari New Gen X dan Demokrat Malaya.
Menurut Amil Wong, pada 2 November 2025, saat pendaftaran para calon, JPRKUM selain mendiskualifikasi calon dari New Gen X dan demokrat Malaya, juga satu calon dari Suara Siswa dan tiga calon dari Siswa Malaya.
”Tidak ada alasan jelas yang diberikan pada waktu itu, sehingga menimbulkan kekhawatiran serius mengenai transparansi dan keadilan dalam proses pemilihan,” ungkap Amil Wong.
Menganulir Diskualifikasi
Namun, pada hari berikutnya, jelas Amil, JPRKUM menganulir diskualifikasi seluruh calon.
Amil mengaku meskipun mereka menyambut baik keputusan tersebut, rangkaian peristiwa ini menimbulkan pertanyaan tentang integritas dan konsistensi prosedur JPRKUM.
Perubahan keputusan yang drastis ini mengindikasikan kemungkinan adanya campur tangan administratif. Ia menilai kurangnya akuntabilitas dalam pengelolaan pemilihan.
Pada 5 November 2025, berbagai front mahasiswa di antaranya Neo Siswa, New Gen X, Demokrat Malaya, Suara Siswa, dan UMANY mengeluarkan pernyataan bersama.
Lewat pernyataan bersama, mereka mendesak JPRKUM secara resmi mencabut surat diskualifikasi sebelumnya.
”Kami juga menyatakan kesediaan untuk menarik kembali pencalonan kami sendiri sebagai bentuk solidaritas, jika tidak bisa menjamin keadilan bagi seluruh mahasiswa,” ungkap Emil.
Presiden JPRKUM Mundur
Situasi semakin memanas pada 6 November 2025 ketika Aeron Balang, Presiden JPRKUM, mengumumkan mundur.
Dalam pernyataannya, Aeron menuduh adanya campur tangan dari pihak atasan universitas selama proses pengajuan calon.
Aeron menyampaikan kekhawatiran bahwa ada upaya manipulasi sistem pemungutan suara untuk menguntungkan pihak tertentu.
Tindakan Aeron menguatkan kekhawatiran banyak mahasiswa bahwa pihak kampus mengkompromikan proses demokrasi mahasiswa di salah satu kampus tertua di Malaysia itu.
Menuntut Universitas
Pada 7 November 2025, berbagai front mahasiswa di Universiti Malaya berkumpul melakukan aksi damai. Aksi berlangsung di depan Gedung Dewan Tunku Canselor (DTC) Universitas Malaya.
Mereka menyatakan solidaritas terhadap Aeron Balang dan menuntut transparansi serta akuntabilitas dari pihak universitas.
”Kami, para mahasiswa, menolak segala bentuk penindasan, intimidasi, dan manipulasi dalam proses demokrasi kampus,” kata Amil.
Menurut Amil, pihak kampus mempertaruhkan integritas Universiti Malaya.
”Kami menyerukan kepada pihak universitas untuk menjelaskan ketidakberesan ini. Menjamin independensi pemilihan kampus, dan menghormati suara mahasiswa,” tambah Amil.
Menurut para mahasiswa, pihak universitas seharusnya membuka ruang di mana demokrasi tumbuh, bukan mengendalikan.
”Kami menuntut keadilan, transparansi, dan penghormatan terhadap demokrasi mahasiswa.
Kami tidak akan diam di hadapan ketidakadilan,” tegas Amil. (Tan) ***













