MAKASSARCHANNEL – Setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Iran mengibarkan bendera merah.
Bendera merah berkibar di kubah Masjid Jamkaran, di Qom, Minggu (1/3/2026). Tindakan ini sebagai simbol balas dendam.
Dalam tradisi Syiah, bendera merah menandakan seruan untuk keadilan dan pembalasan. Pengibaran bendera ini biasanya saat terjadi peristiwa besar dengan ketidakadilan.
Baca Juga: Khamenei Tewas, Jasadnya di Reruntuhan Bangunan
Mengutip Hindustan Times, Garda Revolusi Iran bersumpah akan membalas dendam terhadap AS dan Israel.
Bendera merah berkibar di Masjid Jamkaran usai otoritas Iran mengumumkan Ayatollah Ali Khamenei terbunuh di kompleks pemimpin tertinggi Iran.
Masjid Jamkaran terletak di pinggiran Kota Qom, merupakan kota suci Syiah. Tempat ini juga adalah pusat pendidikan utama teologi di Iran.
Tempat yang menjadi pusat kaderisasi, pendidikan dan gerakan, terutama setelah naiknya Ali Khamenei ke tampuk kekuasaan tertinggi Iran pada 1989.
Serangan Balasan dan Kerusakan
Sementara Reuters memberitakan, Iran telah melakukan serangan balasan di kota-kota Teluk, termasuk Dubai, Abu Dhabi, dan Doha. Di tempat-tempat yang terdapat fasilitas militer milik AS.
Serangan balasan ini mengakibatkan kerusakan pada bangunan-bangunan penting. Dampaknya adalah penutupan wilayah udara.
Di tengah ketegangan ini, Iran dilaporkan siap untuk terlibat dalam pembicaraan.
Kementerian Luar Negeri Oman menginformasikan, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengatakan Iran terbuka untuk upaya deakselerasi.
Abbas menyampaikan pernyataan tersebut kepada Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi.
Sementara Majalah Atlantic memberitakan Presiden AS, Donald Trump mengklaim kepemimpinan baru Iran ingin berbicara dengannya
“Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka,” kata Trump.
Memilih Pemimpin Baru
Sementara The Times of India memberitakan Iran saat ini masih konsentrasi dalam proses memilih pemimpin baru.
Iran telah membentuk dewan kepemimpinan sementara (Interim Leadership Council) untuk mengisi kekosongan kekuasaan.
Dewan ini terdiri atas Presiden Iran, Kepala Kehakiman, dan ulama senior, sambil menunggu pemilihan pemimpin tertinggi baru.
Alireza Arafi adalah salah satu sosok yang digadang menjadi pemimpin transisi.
Arafi adalah seorang ulama Syiah, politikus Iran, anggota Dewan Wali, dan anggota Majelis Para Ahli. ***













