Syahbandar Larang Nelayan Sinjai Berlayar

MAKASSARCHANNEL.COM – Syahbandar Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, tidak memberi izin berlayar kepada nelayan setempat. Khususnya, yang menuju ke Pulau Jawa, karena cuaca ekstrem di wilayah yang akan dilintasi dalam pelayaran.

Jalur yang dilewati nelayan untuk menongkol ikan ke wilayah tersebut adalah perairan Sinjai, Bira, perairan Kepulauan Selayar, dan Pulau Jawa yang cuaca ekstrem.

“Sementara ini kami setop pelayanan pemberian izin kepada nelayan penongkol untuk tujuan Sinjai ke Pulau Jawa. Ini karena cuaca ektrem di wilayah itu,” kata Petugas Syahbandar Dinas Kelautan dan Perikanan Sinjai, Amal Akhsan, Selasa (6/4/2021).

Kendati demikian, lanjut Amal Aksan, nelayan yang menongkol ikan atau melaut di wilayah Teluk Bone, tetap diberi izin karena cuaca di wilayah tersebut tidak seekstrem di wilayah perairan Bira dan Kepulauan Selayar.

“Cuaca di perairan Teluk Bone masih aman untuk sementara waktu, untuk berlayar mencari ikan,” kata Amal Akhsan.

Berita Terkait :
Nelayan Sinjai Ini Tak Kebagian Bansos, Kades Hanya Beri Janji

Sebelumnya, Syahbandar Sinjai juga melarang nelayan nelayan asal Sinjai berlayar menuju Nusa Tenggara Timur, Kupang, karena ketinggian gelombang dan angin kencang juga sangat membahayakan. Terutama di wilayah Perairan Bira-Selayar ketinggian gelombang mencapai tiga meter. Sehingga tidak aman untuk dilalui untuk kapal nelayan.

Sejumlah nelayan di Kabupaten Sinjai tampak membenahi perahunya memanfaatkan waktu cuaca ekstrem tersebut.

Sejak izin berlayar tidak diberikan, puluhan perahu nelayan terlihat parkir di sepanjang pesisir bagian Timur Sinjai. Ada yang menambat perahunya di pantai, ada pula yang di muara sungai.

Itu dilakukan agar tidak terdampak gelombang, sekaligus dimanfaatkan membenahi perahunya jika ada kerusakan kecil.

Larangan melaut itu berdampak pada pedagang ikan di pasar-pasar tradisional. Jumlah penjual berkurang. Dampaknya harga ikan naik. Di Pasar Samaenre Kecamatan Sinjai Selatan misalnhya, ikan yang biasanya dibeli seharga Rp10.000 per tujuh ekor misalnya, naik menjadi Rp20.000 untuk per lima ekor saja. (fir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *