Merah Putih Dan Ibu Inggit Garnasih

Jarum jam menunjukkan angka 01.51. Hampir dua jam setelah angka empat berubah menjadi lima Agustus 2020. Saat peringatan atau perayaan Hari Kemerdekaan tinggal dua belas hari lagi. Tiba-tiba saya membuka video yang diteruskan Mbah Darto.

Dan wowwww……….. sebuah gulungan kain terbuka ditarik puluhan tenaga kekar dari Sunda, diiringi lagu Indonesia Raya, segera terurai menjadi bendera raksasa yang sedang merayapi Monas. Dan dalam sekejap, Merah Putih raksasa itu meliuk-liuk di udara.

Sudah pasti, jutaan pasang mata akan menatapnya, baik langsung maupun lewat medsos. Dan pasti semua kagum. Yang berbeda, getaran alam bawa sadar tiap-tiap orang yang membaca lambaian Merah Putih raksasa itu.

Beragam, itu sudah pasti. Ada yang membayangkan kerepotan menjahitnya. Ada yang bergidik karena membawa perasaan takutnya pada orang yang berada di atas puncak Monas. Sebagian berpikir kerepotan mengumpulkan dana untuk membiayai kegiatan penyiapan sampai pengibarannya.

Ada juga yang tak berpikir apa-apa kecuali senang melihat bendera raksasa pertamakali ada. Sebagian bangga dan kagum. Dan yang lain memutar memorinya jauh ke belakang, ke masa lampau, saat- saat sebelum dan ketika baru beberapa tahun Merah Putih simbol kemerdekaan dikibarkan.

Saat itu, puluhan, ribuan, bahkan puluhan ribu orang tidak bisa tidur nyenyak. Tidak bisa menikmati makanan. Bahkan kelaparan, menahan sakit tanpa perawatan, menghentikan kerja rutinnya, meninggalkan keluarga, terkurung di terali besi dan lainnya bersimbah darah sampai meregang nyawa. Itu mereka lakukan, berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Jadi Merah Putih yang hari-hari ini berkibar di mana-mana, mulai dari ukuran kecil di spion mobil sampai ukuran raksasa di Monas hanyalah simbol. Simbol kemerdekaan yang diraih dengan susah payah oleh banyak pejuang yang saat itu ikhlas mengabaikan dirinya demi republik.

Jadi sesungguhnya Republik ini, yang disimbolkan Merah Putih amat mahal karena memakan korban begitu banyak. Itulah pentingnya kita Hening Cipta, untuk merenungkan betapa beratnya perjuangan untuk memerdekakan negeri ini.

Hanya saja, sekarang Hening Cipta menjadi salah kaprah. Diubah menjadi doa. Hening Cipta adalah perenungan atas usaha di balik pencapaian. Agar pencapaian itu dihargai lalu dirawat karena paham betapa sulitnya pencapaian itu.

Apalagi tahu mereka yang menguras energi untuk pencapaian kemerdekaan kalau kita berbicara dalam konteks kebangsaan kita, sebagian benar-benar semata berkorban.

Yah berkoban semata demi kemerdekaan, karena mereka tidak mendapatkan apa-apa. Sebagian di antaranya dikukuhkan sebagai pahlawan, tetapi sebagian tidak. Di antaranya; PANTAS Inggit Garnasih, yang menumpahkan seluruh energinya untuk bangsa ini, tetapi tidak mendapatkan apapun dan ia memang tidak menuntut apapun. Tetapi dalam Hening Cipta kita, pantaskah PANTAS Inggit Garnasih dibiarkan begitu saja?

Pagi ini, saat saya menatap Merah Putih raksasa dikibarkan di Monas diiringi Indonesia Raya, saya berhening cipta, seorang perempuan pada jam segini, membersihkan cowetnya karena baru merampungkan jamu yang akan dijualnya siang nanti. Berarti, ia hanya akan tidur dua, paling tinggi tiga jam. Dan itu ia lakukan bukan sekali, dua kali, tetapi bertahun.

Karena ia harus membanting tulang untuk membiayai pergerakan sang suami, Bung Karno, yang hari-harinya hanya ia habiskan untuk perjuangan memerdekakan Indonesia. Karena itu, sambil menatap bangga Merah Putih raksasa di Monas, sambil saya berimajinasi juga menatap patung PANTAS Inggit Garnasih berdiri tegak di Kota Bandung. (Jacobus K Mayong Padang, mantan anggota DPR RI asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *