Silaturahmi Virtual Alumni SMPN Bontotiro

MAKASSARCHANNEL.COM – Alumni SMPN Bontotiro, Bulukumba, melakukan silaturahmi secara virtual, Jumat (29/5/2020) malam. Meski tak bertemu langsung dan bersalam-salam, namun tidak mengurangi keakraban partisipan.

Reuni virtual yang dipandu oleh Imran Umar ini diikuti 100-an lebih peserta di dua room. Mereka berbagi kisah penuh perjuangan semasa SMP di kecamatan yang terletak di Bulukumba bagian timur itu. Dari mereka yang kakinya belepotan lumpur tanah merah saat ke sekolah, hingga yang kedapatan manjat pohon jambu air meski hanya mengenakan sarung, seusai mengaji.

Alumni SMPN Bontotiro menyebar di banyak daerah di Indonesia dengan beragam profesi bidang pengabdian. Ada yang masih aktif, namun tak sedikit pula yang telah purna bakti. Meski tidak saling kenal karena beda angkatan, namun canda dan tawa tetap mewarnai celotehan yang kental dengan nuansa dialek Makassar Konjo.

Sebelum partisipan berbagi cerita, Muh Yusdar Radja, alumni angkatan 1979 memberi tauziyah yang intinya mengingatkan pentingnya menjaga hati agar tidak berburuk sangka.

Dia menyebut, halalbihalal sebagai sebuah istilah khas Indonesia yang tak dikenal di tempat lain. Kegiatan ini digunakan sebagai media untuk saling mengikhlaskan, yang momennya setelah Hari Raya Idul Fitri.

Berita Terkait :
Alumni Angkatan 82 SMAN 1 Bulukumba Ngumpul Lagi

Suasana pandemi Covid-19, bukan alasan untuk tidak saling menyapa dengan sesama sahabat untuk saling memaafkan dan mengikhlaskan agar peretamuan ini bisa membawa rahmat. Apatah lagi, amalan Ramadan itu, produk akhirnya untuk mendapat predikat insan muttaqim.

Halalbihalal dianggap baik dilakukan sebagai ajang untuk saling bermaaf-maafan karena dalam interaksi dengan sesama manusia hampir bisa dipastikan ada keteledoran yang tidak klop sehingga harus diminta ridhanya.

“Intinya, ini saling memaafkan dan saling mengikhlaskan,” katanya mengingatkan.

Setelah saling mengikhlaskan dan menghalalkan, jangan hanya dimaknai sebagai sebuah siklus yang berulang terus. Selanjutnya adalah, bagaimana agar setelah halal, kita tetap waspada untuk meminimalisir terjadinya kesalahan yang berpotensi menyimpan rasa di antara kita.

Menyinggung suasana kekinian yang dimanjakan dengan beragam peralatan canggih, Yusdar mengatakan sebaiknya itu dimaknai sebagai sumber kerahmatan yang memudahkan kita berkomunikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *