Kerajinan Kain Kulit Kayu Di Rampi Lutra Terancam Punah

MAKASSARCHANNEL.COM – Melestarikan tradisi dan budaya kini menjadi tantangan tersendiri di zaman serba digital ini, jika diabaikan akan punah. Salah satunya adalah kerajinan pembuatan baju, celana, topi, selendang, ikat kepala dari kulit kayu, Rampi, Kabupaten Luwu Utara.

Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Luwu Utara, Ir Marthina Simon, bersama media ini berkunjung ke tempat pengrajin kulit kayu, untuk tukar pikiran, baik secara adat maupun lembaga.

Dalam pertemuan Marthina Simon dengan Herlina Shinta bersama para tua-tua adat (Tokey Bola’) setempat, muncul prihatin melihat perkembangan pengrajin yang menuju kepunahan jika pemerintah tetap abai.

Agar komunitas pengrajin ini bisa bertahan, bahkan dikembangkan, Herlina Shinta dan IKAT Lutra akan membangun kelompok pengrajin yang tersebar di Desa Onondowa, Kecamatan Rampi, sekaligus memberdayakan mereka menghadapi perkembangan zaman.

Dalam perbincangan itu terungkap juga, generasi muda di Desa Onondowa, Rampi, tak tertarik menekuni kerajinan ini. Salah satu alsannya, harga jual kain kulit kayu murah.

Baca Juga :
Banjir Rendam Lima Desa Di Luwu Utara

Kain ini biasanya dikenakan saat ada acara pernikahan hingga pesta adat ataupun upacara lainnya. Ada juga yang menggunakan untuk pakaian sehari-hari.

“Takutnya, pengrajin kulit kayu di kampung kami punah, karena belum ada generasi to Rampi yang bisa melanjutkan kerajinan peninggalan nenek moyang kami,” kata Herlina Shina.

Tak hanya merangkul pengrajin agar tetap melanjutkan produksi, Marthina juga akan membantu mempromosikan produk dari kain kulit kayu. Mereka akan dihimpun dalam sebuah kelompok lembaga adat kesenian dan pengrajin yang terstruktur.

Herlina Shinta yang masih menekuni pembuatan kain kulit kayu beringin itu menjelaskan proses produksi dari bahan setengah jadi menjadi barang siap pakai masih dilakukan secara tradisional. Bahkan, pewarnaannya pun masih mengandalkan bahan baku alam yang dari berbagai jenis tanaman, seperti indigo, turi, mengkudu, dan daun mangga.

Dalam menekui kerajinan itu, Herlina Shinta hanya dibantu oleh suami dan anak-anaknya. Dia berharap Pemerintah Kabupaten Luwu Utara bisa membantu pendirian pondok sebagai sekretariat bagi para pembuat tenunan dari kulit kayu.

Untuk menarik minat anak muda menekuni keraajinan tersebut, Herlina Shinta berencana membentuk koperasi dan galeri untuk memajang produk pengrajin. Hanya saja, mereka butuh bantuan permodalan. (yus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *