Corona Datang, Pelajaran Buat Elit Buruh

Saya membuat tulisan ini setelah kawan Nety dan Vidijrah dari SBSI memastikan tidak ada buruh yang berdemo, hari ini (Jumat 1 Mei 2020). Saya senang sekali bahkan bersyukur ada Corona sehingga buruh tidak berdemo memperingati hari suci buruh seluruh dunia; May Day.

Saya bersyukur, bukan senang dengan corona yang membawa kesulitan yang luar biasa, bukan juga karena saya anti buruh. Di bawah bimbingan Prof Dr Muchtar Pakpahan, saya sangat menjiwai dan prihatin dengan kondisi perburuhan di Indonesia yang sampai hari ini belum sejahtera.

Saya konsisten berjuang untuk buruh. Karena satu-satunya kemajuan yang dialami buruh Indonesia sekarang ini yakni bebas berserikat. Kebebasan itu bukan turun dari langit, melainkan melewati perjuangan panjang dengan begitu banyak pengorbanan. Dalam hal inilah saya bersyukur, hari ini tidak ada peringatan Hari Buruh di Indonesia seperti yang selama ini rutin dilaksanakan setiap tanggal 1 Mei setiap tahun.

Kepentingan elit buruh

Sebagai seorang aktivis buruh yang merasakan sulitnya kehidupan dan perjuangan buruh di masa kekuasaan Orde Baru yang otoriter, saya sama sekali bukan tidak setuju dengan peringatan May Day, hari yang amat istimewa bagi kaum buruh di seluruh dunia. Tetapi saya tidak setuju gerakannya.

Pengamatan saya selama ini, gerakan buruh tidak lagi murni memperjuangkan nasib buruh. Gerakan buruh sudah ditumpangi aneka kepentingan politik dari luar buruh dan kepentingan pribadi elit-elit buruh. Hal itu bisa terlihat secara kasat mata pada arus kegiatan pelaksanaan May Day atau setiap ada hal- hal mendasar yang harus disikapi. Ada kekompakan? Tidak ada, dan itu yang membuat saya kecewa melihat gerakan buruh setelah mereka menikmati kebebasan untuk berserikat.

Lihat saja setiap Peringatan Hari Buruh 1 Mei, arus gerak buruh berseliweran, ada yang ke istana, ada yang ke DPR, ada yang ke kantor Kemenakertrans. Begitu pula bila ada hal-hal prinsip yang harus diperjuangkan, buruh menjadi sulit untuk kompak. Persoalannya karena egoisme elit-elit buruh sudah lebih dominan daripada masalah buruh yang sesungguhnya. Akibatnya, kepentingan di luar kepentingan buruh pun mudah menumpang. Seperti virus corona mudah menempel dan berpindah dan membuat lemas orang yang tertular.

Jika para elit buruh sungguh-sungguh mengutamakan kepentingan buruh, apa susahnya untuk menyatu dalam gerakan dan menentukan satu titik kumpul? Misalnya, untuk memprotes Omnibus Law yang muatannya banyak akan menyengsarakan buruh, apa susahnya kalau seluruh serikat buruh mengerahkan anggotanya datang dan serentak duduk di depan istana? Bukankah kekuatan utama buruh adalah kesolidan? Tetapi apa yang dilakukan serikat buruh selama ini justru kontradiktif. Jumlah serikat buruh cukup banyak, tetapi kekuatan buruh justru melemah. Melemah karena tidak bersatu, tidak bersatu karena kepentingan pribadi masing-masing elit buruh lebih dominan.

Lumpuhkan Kota Medan

Bandingkan ketika serikat buruh baru satu; SBSI. Meskipun hanya satu-satunya serikat buruh, saat mengadakan unjuk rasa tanggal 14 April 1994 di Medan, seluruh nusantara bergetar, bahkan getarannya terasa di seluruh dunia. Seluruh petinggi negara menjadi kalang kabut.

Saat itu, SBSI belum diakui oleh pemerintah. Bahkan dilarang. Tetapi meskipun dilarang, di tangan Muchtar Pakpahan sebagai pendiri sekaligus ketua umum, SBSI tetap melawan kekuasaan Orde Baru yang berkolaborasi dengan pengusaha menindas buruh. Apa yang menjadi tumpuan SBSI sehingga gerakannya menggelegar? Kemurnian perjuangan. Tidak ada kepentingan lain, sepenuhnya nasib buruh.

Itulah yang membedakan gerakan buruh tahun 90-an di tangan SBSI dengan gerakan buruh sekarang. Meskipun sekarang organisasi buruh sudah menjamur tetapi gerakannya tidak lagi menggetarkan, karena kepentingan lain ikut menumpang termasuk kepentingan pribadi elit-elit nya. Akibatnya, serikat-serikat buruh tidak bisa lagi bersatu, sulit untuk kompak dan itu jelas terlihat saat peringatan May Day setiap tahun, buruh berseliweran di ibu kota, ada yang ke utara berpapasan rombongan lain yang ke selatan. Ada yang menuju ke barat di tengah jalan berseberangan dengan kelompok lain yang menuju ke timur. Itulah cerminan egoisme masing-masing elit yang melebihi kepentingan buruh.

Jadi sebagian di antara elit buruh (maaf tidak semua) hanya bertopeng buruh tetapi mereka sedang mengurus diri atau mengurus kepentingan kelompok lain. Gerakan yang sangat tidak kompak membuat saya kecewa berat dan stress menyaksikan buruh berseliweran ketika suatu saat diundang teman-teman aktifis buruh mengikuti long march peringatan Hari Buruh.

Pemutar Mesin Reformasi

Saya kecewa, karena perjuangan untuk membebaskan buruh berserikat saja melalui perjuangan berat. Berat dan memakan waktu lama dengan pengorbanan luar biasa. Rusli di Medan meninggal, Marsinah di Porong juga tewas setelah terlebih dahulu disiksa. Muchtar Pakpahan dkk harus meringkuk dalam penjara. Yang di PHK di berbagai tempat di seluruh Indonesia tidak terhitung. Bahkan Semakin banyak setelah peristiwa unjuk rasa di Medan April 1994.

Pasal itulah, khalayak menilai SBSI dalam hal ini buruh adalah salah satu mesin pemutar reformasi. Sayangnya saat mengulas Reformasi, umum langsung berasosiasi wajahnya mahasiswa, buruh tidak pernah disebut. Padahal, saat peristiwa unjuk rasa buruh yang dipimpin SBSI dan melumpuhkan Kota Medan selama tiga hari, saat itu gerakan mahasiswa masih sporadis di beberapa tempat tertentu. Itupun dalam skala yang masih kecil-kecil. Itu perjuangan di lapangan.

Perjuangan di parlemen tak kalah beratnya. Sebagai salah seorang anggota Pansus Pembuat UU No 21 tahun 2000, saya merasakan betapa sulitnya mencangkokkan sum-sum kebebasan buruh ke dalam RUU yang disiapkan pemerintah. Masalahnya, walaupun sudah Reformasi, Presiden Gus Dur orang yang sangat Reformis dan merupakan salah satu pendiri SBSI, dan DPR adalah pilihan langsung, tetapi baik di legislatif terlebih di eksekutif, elemen Orde Baru masih sangat dominan. Busnya baru, tetapi mayoritas penumpang orang lama yang berganti baju.

Jangankan di fraksi lain, di fraksi saya pun PDI Perjuangan masih kuat. Karena itu untuk mereformasi UU agar buruh bebas berserikat dan bebas memperjuangkan nasibnya sungguh berat. Semakin bersentuhan dengan kebebasan, semakin sulit sehingga pembahasannya menyita energi yang luar biasa, karena kami yang memihak buruh saat itu, adalah kelompok minoritas.

Tidak heran, untuk mencantumkan kata buruh saja pada nama UU tersebut harus memakan waktu berbulan-bulan. Apa yang salah dengan kata buruh? Apakah kata itu haram sehingga sulit mencantumkannya? Masalahnya, telinga Orde Baru sangat alergi dan hanya setuju dengan kata pekerja. Belum lagi dengan isinya yang bermuatan kebebasan yang bisa menguntungkan buruh, perjuangannya lebih berat lagi.

Ada tiga unsur utama untuk itu, yakni pembentuk serikat tidak perlu banyak, cukup 10 orang (pasal 5 ayat 2), pembentukannya tidak perlu izin, cukup pemberitahuan saja (pasal 18) dan siapapun tidak boleh menghalangi pembentukan serikat buruh (pasal 28). Tiga poin tetapi sangat penting untuk kebebasan buruh berjuang, namun itu perjuangan yang sangat berat. Hanya oleh karena rahmat Allah dan didorongkan keinginan luhur, ketiga elemen penting itu bisa masuk dalam UU No 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

Kesempatan Merenung

Melewati perjalanan yang amat sulit itulah, mengingat banyaknya kawan-kawan buruh yang menjadi korban PHK sampai terbunuh, begitupun banyaknya aktivis buruh yang mengalami berbagai penderitaan, membuat saya kecewa berat menyaksikan serikat buruh yang tidak kompak memperjuangkan nasib buruh.

Karena itu, berkaitan dengan komitmen saya untuk konsisten berjuang bagi kaum buruh, Marhaen kata Bung Karno, hari ini saya sungguh bersyukur dengan adanya corona sehingga tidak ada demo buruh memperingati hari suci buruh, 1 Mei. Bersyukur karena tidak stres menyaksikan entah berapa kelompok buruh yang berseliweran, gerakan yang menggambarkan ketidakkompakan para buruh.

Bersyukur karena ada kesempatan untuk menggantang harapan baru perbaikan nasib buruh ke depan. Sebab dengan corona yang memaksa kita tinggal di rumah, kiranya sahabat-sahabat pengurus serikat buruh bisa merenung secara mendalam dan sadar bahwa gerakan yang kocar-kacir tidak akan pernah diperhitungkan dan itu berarti anda tidak serius dan tidak tulus berjuang untuk perbaikan nasib kawan-kawan buruh.

Renungkanlah bahwa kekompakan adalah senjata utama kita dalam berjuang. Perjuangan memang selalu berat, tapi tidak boleh mengendorkan semangat terutama menyangkut nasib berjuta-juta buruh di negeri ini yang masih hidup tertatih-tatih. Bung Karno berpesan; JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Karena itu, ingatlah; peristiwa pertemuan Bung Karno – Marhaen di tengah sawah Cigereleng, Bandung Selatan tgl 1 Oktober 1923.

Saat itulah, Bung Karno menjadi emosional untuk memerdekakan negeri ini karena tidak tahan menyaksikan nasib Marhaen yang menderita. Semoga kesempatan melakukan perenungan akibat corona sekarang, melahirkan tekad baru kawan-kawan pengurus buruh untuk kembali menyatukan tekad bersama, sehingga bisa mengesampingkan ego pribadi dan ego kelompok. Setidaknya bersatu menghadapi omnibus law dan satu gerak pada setiap 1 Mei.

Selamat berjuang, selamat menjalankan ibadah puasa bagi kawan-kawan Muslim. (Jacobus Kamarlo Mayong Padang/ Politisi PDIP mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat Makassar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *