Dirugikan Ratusan Juta Rupiah, Pengusaha Maros Polisikan PT Dua Pilar Bangunutama

Komisaris Utama PT Putra Karya Maros Selatan, Kapitan Mare (kiri) bersama Direktur PT Dua Pilar Bangunutama, Muhammad Rasid alias Robi (kanan berkopiah). (Foto : Dokumentasi Kapitan Mare).

MAKASSARCHANNEL.COM – Mega proyek King Paraja yang ingin dihadirkan oleh PT Dua Pilar Bangunutama di Desa Lengkese, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, tidak hanya menggiurkan bagi kontraktor lokal Butta Panruannta. Tetapi banyak juga pengusaha dari luar Takalar yang berminat menjadi mitra.

Sejak media ini menurunkan laporan terkait ketidakjelasan pembangunan proyek tersebut, sejumlah pihak mengaku dirugikan oleh PT Dua Pilar Bangunutama, karena meski sudah menyetor dana sebagai syarat untuk bermitra, proyek tersebut justru semakin tidak jelas kelanjutannya.

Bahkan, informasi dari Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Takalar, Irwan Yunus, menyebutkan, perusahaan itu belum mengantongi izin untuk mendirikan proyek yang digemborkan-gemborkan, alias masih sekadar bermodal brosur saja.

Jangankan memiliki izin untuk mewujudkan mega proyak itu, kata Irwan Yunus, mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin pun belum mereka lakukan. Padahal, PTSP sudah memberi kemudahan pendaftaran melalui sistem online. Cukup mendaftar melalui aplikasi Online Single Submission (OSS) semuanya menjadi mudah.

Seorang pengusaha asal Maros pun angkat bicara terkait mega proyek King Paraja yang ingin dihadirkan oleh Dua Pilar Bangunutama. Dia adalah Kapitan Mare, Komisaris Utama PT Putra Karya Maros Selatan.

Berita Terkait :
Bermodal Brosur, King Paraja Tarik Miliaran Rupiah, Soal Izin Ini Kata Kadis PTSP dan Camat Marbo Takalar

Pria yang beralamat di Jl Moncongloe Maros ini, sudah menempuh langkah hukum karena merasa dirugikan oleh PT Dua Pilar Bangunutama. Dia mengaku sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan Direktur PT Dua Pilar Bangunutama, Muhammad Rasid ST, pertengahan tahun 2019 yang justru menjadi awal dari bencana kerugian bisnis baginya. Nasib dananya senilai Rp110.500.000 dalam genggaman Dua Pilar Bangunutama tidak jelas.

Kepada media ini, Rabu(15/4/2020), melalui WhatsApp Kapitan Mare mengungkapkan, “Saya tidak menyangka, kontrak yang ditanda tangani Direktur PT Dua Pilar Bangunutama Muhammad Rasid ST, pertengahan tahun 2019 jadi awal bencana bagi saya.”

Menurut Kapitan Mare, adanya kontrak yang diduga abal-abal itu berawal dari pertemuannya dengan salah seorang petugas (pegawai) Dua Pilar Bangunutama bernama Syamsuddin, bulan Juni 2019 yang menawarkan paket pekerjaan timbunan, talu, drainase, pergudangan, pengadaan material pasir, dan pengadaan alat berat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *