Detik-detik Penghuni Distak Turun ke Bumi Mengadili Kepemimpinan SK-HD

Suasana di Posko Pendaftaran Peserta Rapat Akbar P22 Distak di Takalar. (Foto:M Said Welikin/MAKASSARCHANNELCOM)

Berita Kepada Kawan
(Ebiet G Ade)

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menampak kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggallah ku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

GEGAP gempita warga Distak Membahana di jagad maya dan menghentak Butta Panrannuangku Takalar. Ribuan undangan telah dibagi di pasar-pasar dan masjid-masjid, ratusan spanduk juga telah ditebar di setiap sudut kota dan desa.

Beberapa hari terakhir, Redaksi media ini menerima telpon dan pesan menanyakan semua hal ihwal tentang Distak (Diskusi Takalar). Beragam pertanyaan, antara lain, Mahluk apa itu namanya Distak, apakah masuk dalam golongan gaib, misalnya jin, setan, atau malaikat. Kemudian bagiamana besarnya rapat akbar dan tujuan digelar rapat akbar tersebut.

Pantauan wartawan media ini, saat rapat persiapan panitia di sebuah tenda biru, Kamis (17/10/2019), di Alun Alun Makkatang Dg Sibali Takalar, meski agak telat tiba di tempat, namun masih menemukan gelas-gelas kosong dan puntung rokok di asbak yang masih berasap karena lupa dipadamkan apinya, pertanda banyak peserta yang telah meninggalkan tempat karena suara azan sudah mengalun dari menara masjid pertanda waktu salat Magrib telah tiba.

Baca Juga :
Mahfud Mengaku Diminta Jadi Menteri

Peserta diskusi asih terlibat debat seru terkadang ditingkahi suara tertawa sebagaimana layaknya gaya aktivis. Apatah lagi, udara Alun-alun Makkatang Dg Sibali, terasa sejuk, karena rindangnya pohon trambesi, glodokan rimbun dan glodokan tiang serta pohon-pohon lainya. Bukan hanya sejuk, tetapi nyaman mungkin karena sore itu terdengar kicauan burung pleci, kutilang, dan burung gereja.

Saya duduk terpaku menikmati sejuknya udara, seraya mendengarkan kicauan burung pleci, kutilang, dan burung geraja dan alunan suara petikan gitar Ebiet G Ade dalam lagu Berita Kepada Kawan yang diputar salah satu warkop.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *