MAKASSARCHANNEL.COM – Dampak perang di Timur Tengah kian mengkhawatirkan, harga minyak dunia tembus 111 dolar AS per barel, pada perdagangan, Kamis (2/4/2026).
Lonjakan harga minyak mentah dunia itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan meningkatkan eskalasi perang di Iran.
Reuters memberitakan, harga minyak mentah Brent ditutup naik 7,87 dolar AS atau 7,78 persen menjadi 109,03 dolar AS per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 11,42 dolar AS atau 11,41 persen ke level 111,54 dolar AS per barel, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2020.
Pasokan Terganggu
Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar atas potensi terganggunya pasokan minyak, terutama setelah konflik di Timur Tengah semakin memanas.
Trump menegaskan, operasi militer terhadap Iran akan ditingkatkan dalam beberapa pekan ke depan.
Hal ini dapat memperpanjang gangguan aliran energi melalui Selat Hormuz yang vital.
“Kami akan menghantam mereka [Iran] dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” ujar Trump.
“Kami akan mengembalikan mereka ke kondisi yang sangat terpuruk,” lanjut Trump.
Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi respons Iran atas serangan AS dan Israel sejak akhir Februari, turut memperparah kekhawatiran pasar.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati wilayah tersebut.
Pelaku pasar kini mencermati potensi kerusakan infrastruktur energi Iran yang dapat memperpanjang gangguan distribusi minyak.
“Pertanyaan utama pelaku pasar saat ini adalah apakah infrastruktur minyak Iran berisiko terdampak, dan jika kerusakan meluas, maka pemulihan aliran minyak di kawasan ini kemungkinan akan semakin tertunda,” ujar Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial.
Sementara itu, pelaku pasar memperkirakan premi risiko harga minyak dapat menurun jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat.
Again Capital
“Ekspektasi pasar adalah jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam beberapa minggu, maka premi risiko ini akan langsung turun,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital.
Sejumlah lembaga keuangan memperkirakan harga minyak masih berpotensi naik. Citi memproyeksikan harga Brent rata-rata berada di 95 dolar AS per barel pada skenario dasar dan bisa mencapai 130 dolar AS pada skenario optimistis di paruh kedua tahun ini.
Sementara JP Morgan memperkirakan harga minyak dapat berada di kisaran 120 dolar AS hingga 130 dolar AS dalam waktu dekat, bahkan berpotensi menembus 150 dolar AS per barel jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga pertengahan Mei.
Ketidakpastian pasokan energi global juga dipicu oleh gangguan produksi di Rusia akibat serangan terhadap infrastruktur energi serta meningkatnya risiko terhadap ekonomi global, khususnya di kawasan Eropa. (bas)













