BERITA TERKINIRAGAM INFO

Gairahkan Sastra Di Sulsel, KoPi Makassar Lakukan Ini

×

Gairahkan Sastra Di Sulsel, KoPi Makassar Lakukan Ini

Sebarkan artikel ini

Kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini, sebagian besar pernah dimuat di media cetak dan media online. Namun disunting kembali ketika dirangkum menjadi satu buku.

Bagi pencetus Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS) Sulawesi Selatan itu, menulis adalah kebebasan dan pembebasan diri. Karena itu, tulisan-tulisannya juga ingin membebaskan dirinya memasuki ruang-ruang imajinasi dan hati pembacanya.

“Ada budaya di Makassar yang positif. Kalau ada buku baru, selalu ada ajakan untuk mendiskusikannya,” katanya.

Berita Terkait :
Sastra Sabtu Sore Jadi Ruang Interaksi Dan Berekspresi

Alumnus Fakultas Bahasa dan Sastra Unismuh Makassar ini sementara membangun ekowisata bernama Tandabaca. Tempat itu semacam taman baca, tempat rekreasi dan kegiatan masyarakat yang terbuka. Rencananya, di situ juga akan ada mushalla yang meski kecil tapi bisa memenuhi kebutuhan ibadah masyarakat.

Dr Asis Nojeng, yang diberi kesempatan pertama mengomentari buku ini, mengaku salut pada Irhyl Makkatutu. Karena menggunakan istilah-istilah bahasa Makassar dan Konjo dalam cerpennya. Misalnya, ungkapan bahasa daerah yang kemudian jadi idiom politik, seperti bantu ka’ cappo.

Tinggalkan Balasan