MAKASSARCHANNEL, Pare-Pare— Dalam upaya meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan pelajar, Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin (UNHAS) menyambangi UPT SMA Negeri 2 Pare-Pare pada Kamis (24/7/2025). Mereka mengusung tema “Peningkatan Partisipasi Siswa pada Ruang Digital dalam Merespons Degradasi Lingkungan.”
Sejak awal acara, antusiasme terpancar dari para peserta. Setelah menerima sambutan pembuka dari Dr. Ria Renita Abbas, S.Sos., M.Si. selaku perwakilan Departemen Sosiologi UNHAS, pihak sekolah—melalui Wakil Kepala Sekolah—melanjutkan dengan membuka kegiatan secara resmi. Dengan begitu, suasana edukatif langsung terasa sejak awal.
Siswa Aktif Menyerap Materi dan Perspektif Baru
Selanjutnya, dosen sosiologi Ridwan Syam, S.Sos., M.Si. menyampaikan materi dengan pendekatan interaktif. Ia menjelaskan bagaimana teknologi digital berperan dalam membentuk hubungan manusia dan lingkungan. Seiring dengan perkembangan zaman, ia menekankan bahwa siswa perlu memahami tiga pilar penting:
– Memahami krisis ekologi,
– Mengaktifkan partisipasi digital,
– Melakukan aksi kolektif.
Setelah itu, Ridwan mengarahkan siswa untuk mengambil peran sebagai creator, curator, dan collaborator di dunia digital. Ia menyambung dengan menguraikan strategi partisipasi yang mencakup educate, network, generate, amplify, go offline, dan evaluate. Dengan transisi yang mulus antar konsep, ia membangun narasi yang mendorong siswa agar merasa memiliki peran penting dalam gerakan lingkungan digital.
Siswa Terlibat Langsung Lewat Tantangan Konten Kreatif
Sebagai bentuk implementasi, Tim LPPM UNHAS menyampaikan tantangan kepada siswa untuk membuat video berdurasi 60 detik bertema aksi lingkungan. Mereka menetapkan deadline hingga 19 Agustus 2025. Dengan demikian, siswa tak hanya belajar secara teori, tetapi langsung menuangkan pemahaman mereka ke dalam karya nyata.
Media Sosial Jadi Alat Perubahan yang Efektif
Melalui kegiatan ini, UNHAS mendorong siswa untuk memanfaatkan media sosial sebagai ruang kampanye lingkungan yang berdampak. Ridwan Syam menutup sesi dengan pernyataan kuat, “Siswa bisa memulai gerakan lingkungan lewat media sosial yang mereka kuasai. Jari mereka bisa menjadi alat perubahan.”***













