Dia berharap huntara dan huntap cepat selesai, sehingga semua pengungsi bisa segera pindah, bisa beraktivitas seperti biasa.
“Nggak enak di tenda pengungsian. Kasian yang udah lansia dan anak-anak. Kalau malam dingin banyak nyamuk. Trus yang sekolah juga jauh jaraknya,” pungkasnya.
Berita Terkait :
Dompet Dhuafa Ke Konawe Sultra Lakukan Quality Control Sapi Kurban
Sebagai informasi, pembangunan huntara dan huntap sempat mengalami keterlambatan lantaran beberapa kendala. Mulai dari cuaca, hingga akibat munculnya erupsi kecil yang terjadi di Gunung Semeru.
“Kemarin kendalanya pas hari pertamanya memang belum ada aliran drainase, jadi pada saat hujan lebat, bahan (materialnya) bisa bergeser atau terbawa air. Sekarang sudah ada drainase, jadi lebih enak sudah. Belum lagi karena cuacanya dan ketika ada erupsi kecil-kecil, jadi tukangnya sedikit takut,” kata Amni Najmi, Kepala Subbidang Penataan Penanggulan Bencana BPBD Lumajang.
Untuk proses pemindahannya, Amni menuturkan, “Kalau di Lapangan Desa Penanggal itu, hampir semua sudah kami kasih kunci. Namun memang kendalanya, ada beberapa hunian yang belum memiliki air. Jadi belum teraliri air. Tapi alhamdulillah sekarang sudah teraliri. Tinggal 17 KK dari 100 KK yang di sana (yang belum teraliri air),” katanya.











