BERITA TERKINIKOLOM

Coto Rampa

×

Coto Rampa

Sebarkan artikel ini
Matahari masih ngintip malu-malu di ufuk timur, ketika dua Srikandi tangguh Penbis (Pengusaha Nulis Buku Indonesia), Heny Suhaeny dan Wanti Eldrin, tiba di Kafe Baca Jl Adhyaksa No 2 Panakkukang, Makassar

MATAHARI masih ngintip malu-malu di ufuk timur, ketika dua Srikandi tangguh Penbis (Pengusaha Nulis Buku Indonesia), Heny Suhaeny dan Wanti Eldrin, tiba di Kafe Baca Jl Adhyaksa No 2 Panakkukang, Makassar.

Beberapa menit sebelumnya, Founder Komunitas Anak Pelangi (K-Apel), Rahman Rumaday, juga sudah datang. Tak lama berselang, Arwan Rusli Daeng Awing juga nongol dengan senyum khasnya.

Mereka datang lebih awal dari jadwal keberangkatan ke Kabupaten Pangkep, hari itu, Kamis (18/12/2025). Sehari sebelumnya, kami sepakat akan start dari Kafe Baca Makassar, pukul 07.00 Wita.

Meski sempat molor beberapa menit dari rencana awal, kami akhirnya berangkat juga. Sigra putih berkaki empat di bawah kendali Sang Pilot Akbar, mengaspal tenang menyusuri Jl Adhyaksa, Jl Pengayoman, dan Jl AP Pettarani, menuju Tol Reformasi. Canda dan tawa mewarnai perjalanan kami berlima.

Tujuan kami, mengunjungi SD Negeri 61 Terapung Pattallassang di Kelurahan Bontokio Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Menuntaskan amanah donatur, menebar kebaikan melalui Ekspedisi Berbagi Cinta Komunitas Anak Pelangi.

Sehari sebelum Ekspedisi Berbagi Cinta, Rumah Zakat menitipkan amanah untuk 39 anak sekolah plus delapan guru dan tenaga kependidikan di sekolah berbentuk rumah panggung di atas empang kurang produktif itu.

Dalam sepeminum teh si putih bergerak lincah membelah kepadatan lalulintas, dua Srikandi Penbis terus berkomunikasi dengan rekan sesama anggota Penbis, menginformasikan dinamika perjalanan yang sarat nilai kemanusiaan. Rona bahagia mewarnai wajah-wajah penuh canda.

Suara khas Pembina Penbis, Prof Asdar, terdengar dari speaker telepon selular milik Ketua Umum Penbis Heny Suhaeny menanyakan posisi perjalanan untuk memastikan lokasi titik temu dua tim yang berangkat dari lokasi berbeda.

Bendahara Umum Penbis, Wanti Eldrin, mengarahkan Prof Asdar ke kawasan Ruko Laut Tak Berombak. Penamaan wilayah ini, agak unik. Meski terletak di darat Kota Maros, namanya menggunakan diksi laut tak berombak. Airnya tenang karena memang bukan laut. Hehehehehehe.

Titik temu dua tim kecil ini adalah, rumah makan coto khas Butta Salewangang Maros, Coto Rampa dengan tagline, Kuat rempahnya bikin sehat badan dan penat hilang.

Mendengar kata Coto Rampa, angan saya melayang jauh. Terkenang sahabat lama sesama jurnalis yang saat itu bertugas di Maros. Kami pernah sama-sama berjuang di Kawah Candramuka Arif Rate (nama yang kerap saya gunakan untuk menyebut kantor koran Harian Pedoman Rakyat Makassar).

Beberapa tahun silam, saya pernah berkunjung ke Maros menikmati kuliner coto bercita rasa khas tersebut. Bagi saya, menyebut coto di Butta Salewangang, hampir pasti, saya teringat Coto Rampa. Milik sahabat lama, Muhammad Rusli.

Wanti Eldrin, mentraktir rombongan menikmati coto. Ini kunjungan ketiga saya ke Coto Rampa. Hanya saja, dua kunjungan sebelumnya terletak di ruko berbeda. Meski beda lokasi, namun aroma khas dan rasa cotonya tidak berubah. Tetap recommended untuk penyuka coto. Rasanya, melebihi ekspektasi.

Saya pesan menu kegemaran, paru-hati. Bukan separoh hati. Karena rasa dan aroma khasnya yang menggoda, tak terasa, isi mangkuk sudah tuntas. Tak menyisakan setetes kuah pun karena sudah berpindah ke dalam perut.

Dalam hitungan menit, rombongan bergerak lagi meninggalkan Pantai Tak Berombak menuju SDN 61 Terapung Pangkep. Tak nyaman rasanya, jika murid dan guru menunggu kami terlalu lama di sekolah tujuan.

Untuk perjalanan selanjutnya, saya dan Wanti Eldrin gabung dengan rombongan Pembina Penbis, Prof Asdar. Bukan tak setia kawan bersama Sigra, tetapi untuk menjaga keseimbangan. Menemani Prof Asdar yang hanya berdua dengan “pilotnya” sejak berangkat dari Tamalanrea.

Setelah melewati terowongan di bawah lintasan rel kereta api, rombongan menyusuri jalan desa. Lebar jalanan sangat menantang adrenalin driver karena hanya seukuran satu kendaraan roda empat saja. Untungnya, selama perjalanan tak berpapasan dengan kendaraan roda empat. Sepertinya, lokasi tersebut jarang dikunjungi tamu bermobil.

Dalam perjalanan menyusuri jalan desa, alam menyajikan pemandangan sejuk. Hamparan sawah yang padinya baru saja ditanam berpagar barisan bukit kars di kejauhan, sungguh memanjakan mata.

Layaknya di pedesaan, lokasi sekolah yang hanya punya 39 murid itu, seolah berada di wilayah terpencil. Letak rumah penduduk terpencar. Nyaris tak ada yang berdampingan. Berdempetan serapat rumah ala perkotaan.

Akhirnya, kami tiba di jalan beton. Panjangnya sekira 50 atau 60 meter dari sekolah tujuan. Sama seperti jalan desa yang dilewati sebelumnya, lebar jalan yang sejatinya pematang sawah yang dilebarkan itu hanya muat untuk satu mobil saja.

Sambutan hangat guru dan tenaga kependidikan di sekolah itu menjemput kami. Senyum senantiasa menghias wajah mereka. Tak ada siswa yang lalu-lalang. Semua berada dalam kelas menyelesaikan soal ujian.

Bersamaan kumandang suara azan Salat Lohor yang bergema dari menara masjid di kampung sebelah, kami pun pamit pulang membawa kesan masing-masing.

Interaksi sarat makna rombongan Ekspedisi Berbagi Cinta Komunitas Anak Pelangi dengan murid, guru, dan tenaga kependidikan sekolah tersebut ada di link https://makassarchannel.com/sekolah-papan/

Dari sekolah tersebut, kami menyusuri kembali jalan sempit tak selapang hati kami yang baru melakukan Ekspedisi Berbagi Cinta kepada murid dan guru. Setelah tiba di jalan poros Parepare-Makassar, lagi-lagi Wanti Eldrin memandu rombongan menemukan penghilang dahaga, es teler segar.

Rombongan pun mampir di Kantor Satpol PP Maros bertemu komandannya, Drs Eldrin Saleh MSi. Usai berbincang dalam suasana kekeluargaan ditemani es teler, kami pun pamit. Rombongan kembali ke formasi awal, sama seperti ketika berangkat dari Kafe Baca Makassar.

*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM

Tinggalkan Balasan