Rimba melukis aktivis HAM Munir dengan judul “Munir Tidak Mati”, Jenri Pasassan membuat lukisan dengan judul “Fight for Living”, dan Faisal Syarif melukis “Kopi Ngebatin”.
Di panggung “Hak Asasi Harga Mati”, setelah Rusdin membacakan puisi, ia secara bergantian mengundang para penyair, dan penyuka puisi membacakan puisi-puisi yang bernuansa kemanusiaan.
Ada empat lukisan potret karya Rimba jadi bagian dari dekorasi panggung. Budi Prapto, yang dikenal sebagai birokrat-seniman, tampil membacakan puisi-puisi Wiji Tukhul, penyair yang hingga kini masih hilang. Sementara Yudhistira Sukatanya membacakan puisi berkaitan dengan peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa.
Baca Juga :
Personel Polda Sulsel, Briptu Andi Try Sandi Saputra S Raih Emas Sea Games 2019 Filipina
Setelah itu, beberapa seniman tampil bergantian membaca puisi. Mereka di antaranya, Maysir Yulanwar dari komunitas Makkareso, Asis Nojeng, Faisa Aljaedy, dan Aliul Abdullah yang merupakan beberapa seniman peserta Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS).
Ada juga sejumlah mahasiswa yang tampil dengan puisi-puisinya. Acara ini kian semarak dengan hadirnya grup musik Kawan Pencerita yang membawakan empat lagu di antaranya “Keluar Rumah” dan “-17”.
Pada kesempatan itu, Dr Ramsiah Tasruddin, dosen salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Gowa, yang sementara menjalani proses hukum terkait UU ITE juga hadir memberikan testimoninya.














