BERITA TERKINIKOLOM

Puasa Kok Gemuk?

×

Puasa Kok Gemuk?

Sebarkan artikel ini
Sore itu lorong terasa hidup seperti biasa. Anak-anak masih berlarian, beberapa bapak duduk santai di kursi plastik depan markas K-apel

Sore itu lorong terasa hidup seperti biasa. Anak-anak masih berlarian, beberapa bapak duduk santai di kursi plastik depan markas K-apel. Angin berhembus pelan membawa aroma masakan dari dapur-dapur yang mulai sibuk menyiapkan menu berbuka.

Saya ikut duduk di salah satu kursi, sebatas menikmati suasana sambil menunggu waktu kembali ke rumah.

Tiba-tiba seorang bapak menepuk bahu saya sambil tertawa.

“Pak… saya perhatikan ki’ ini, kenapa kayak makin gemuk ki? Padahal puasa.”

Beberapa orang yang duduk di situ langsung tertawa.

“Iya di’.. sahut yang lain, “harusnya kalau puasa turun badan.”

Saya tersenyum lalu menjawab santai, “Puasa itu dijalani, bukan dipikirkan.”

“Eh… bagaimana itu maksudnya?” tanya seorang bapak yang sejak tadi ikut mendengar.

Saya menarik napas pelan lalu berkata, “Kadang orang terlalu banyak memikirkan puasa. Dari pagi sudah hitung jam, hitung menit. Baru jam sembilan sudah bilang lapar. Jam sepuluh sudah bayangkan es buah. Jam dua belas sudah pikir ayam goreng, ikan bakar, cobe-cobe. Akhirnya yang dipikirkan cuma perut.”

Mereka tertawa lagi.

“Padahal puasa itu bukan sebatas menahan lapar,” lanjut saya.

“Tujuannya jelas, Allah sudah sebutkan dalam Alquran : la’allakum tattaqun supaya kita menjadi orang yang bertakwa.”

Seorang bapak mengangguk pelan.

“Makanya kalau puasa cuma dijadikan program diet, itu keliru arah. Kalau memang tujuannya hanya kurus, banyak cara lain. Bisa olahraga, bisa atur makan.”

Saya berhenti sejenak lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Puasa Ramadan itu jauh lebih besar dari sebatas urusan badan. Ia urusan iman.”

Lalu saya mengutip sebuah hadis yang pernah saya dengar sejak SMA.
Man shoma romadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Suasana lorong tiba-tiba lebih tenang. Beberapa orang terlihat merenung.

“Lihat,” kata saya lagi,

“dalam hadis itu tidak disebutkan siapa yang puasa supaya kurus. Tidak disebutkan siapa yang puasa supaya diet berhasil. Yang disebut adalah iman dan mengharap pahala.”

Seorang bapak lalu menyahut,

“Berarti kalau orang puasa tapi pikirannya cuma makanan?”

Saya tersenyum.

“Itulah makanya saya bilang tadi. Puasa itu dijalani, bukan dipikirkan. Terlalu banyak memikirkan lapar, sering membuat orang lupa tujuan puasa.”

Seorang bapak yang dari tadi diam tiba-tiba ikut bicara.

“Betul itu. Kadang kita lebih sibuk memikirkan menu berbuka daripada memperbaiki diri.”

Kami semua tertawa kecil.

Saya lalu berkata lagi,

“Kalau puasa dijalani dengan benar, yang berubah bukan cuma badan, tapi hati. Orang jadi lebih sabar, lebih lembut, lebih ringan bersedekah, lebih mudah menahan amarah.”

“Kalau cuma badan yang berubah, itu bukan puasa yang sempurna,” tambah saya.

Bapak tadi kembali menggoda,

“Jadi kalau ada orang makin gemuk waktu puasa?”

Saya tertawa lalu menjawab,

“Tidak apa-apa kalau badan naik sedikit. Yang penting iman yang naik, sabar yang naik, takwa yang naik.”

Seorang bapak menimpali sambil tersenyum,

“Kalau begitu berarti puasanya berhasil.”

Angin sore masih berhembus di lorong itu. Anak-anak mulai pulang ke rumah masing-masing. Dari kejauhan terdengar suara orang menyiapkan piring dan gelas mungkin untuk berbuka.

Obrolan sederhana di lorong sore itu akhirnya memberi satu pengingat kecil :

Puasa bukan sebatas menahan lapar.

Puasa adalah perjalanan iman.

Karena sejatinya,

puasa itu dijalani, bukan dipikirkan. ***

*) Rahman Rumaday, Redaktur Khusus MAKASSARCHANNEL.COM

Tinggalkan Balasan