TIDAK terasa kita dipertemukan lagi dengan Ramadan 1447 H / 2026 M. Setiap tahun datangnya selalu seperti itu: terasa cepat, tapi suasananya langsung beda.
Jadwal tidur berubah, jalanan sore hari lebih ramai, warung dadakan muncul di pinggir jalan, dan orang-orang mendadak punya alasan yang sama untuk menunggu magrib.
Puasa memang ibadah wajib dalam Islam. Biasanya, kita diajari sejak kecil: menahan makan dan minum dari subuh sampai magrib. Selesai. Definisi formalnya begitu.
Tapi kalau Ramadan cuma dipahami sebatas ritual menahan lapar dan haus, pembahasannya berhenti di situ saja. Padahal, pengalaman Ramadan tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang bergerak di antara orang-orang, perasaan kebersamaan yang sulit dijelaskan hanya dengan istilah pahala dan dosa.
Tujuan ibadah, termasuk puasa, jelas: mendekatkan diri kepada Allah. Bukan sekadar kuat-kuatan tidak makan. Harapannya, setelah Ramadhan, kita lebih terjaga dari perbuatan yang dilarang, lebih hati-hati dalam bersikap, dan lebih selaras dengan nilai Islam.
Mencapai Derajat Takwa
Dalam Alquran disebutkan puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Artinya puasa bukan akhir, melainkan proses pembentukan diri, baik pribadi maupun sosial.
Emile Durkheim, yang sering disebut bapak sosiologi modern, pernah menjelaskan bahwa masyarakat bertahan karena solidaritas. Ia membaginya dua: solidaritas mekanis dan solidaritas organik.
Solidaritas mekanis muncul karena kesamaan keyakinan dan tradisi. Orang merasa satu karena percaya hal yang sama. Sementara solidaritas organik muncul karena saling ketergantungan dalam kehidupan modern.
Kalau dipikir-pikir, Ramadan itu contoh solidaritas mekanis yang sangat kuat. Bayangkan jutaan orang bangun sahur di waktu yang hampir sama, menunggu azan yang sama, menahan lapar yang sama. Kondisi tersebut tidak perlu saling kenal, tapi ada rasa senasib. Identitas kolektif terbentuk begitu saja.
Durkheim juga bilang ritual itu penting. Bukan sekadar simbol, tapi perekat sosial. Ritual membuat orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Makanya buka puasa bersama selalu terasa beda. Secara logika, makan itu kebutuhan biologis biasa. Tapi coba perhatikan: kurma tiga butir dan air putih di masjid terasa lebih nikmat daripada makan mewah sendirian.
Ada rasa hangat yang tidak berasal dari makanan, tapi dari kebersamaan. Kita duduk berdekatan dengan orang yang bahkan namanya tidak kita tahu, tapi saat azan Magrib berkumandang, semuanya seperti keluarga.
Perasaan haru, syukur, bahkan kagum itulah yang Durkheim maksud sebagai pengalaman emosional terhadap yang sakral. Dari pengalaman itu lahir komitmen moral. Orang jadi lebih mudah berbagi, lebih ringan menolong, lebih sabar menghadapi orang lain. Bukan karena tiba-tiba berubah watak, tapi karena merasa berada dalam satu komunitas nilai.
Puasa memang tidak mudah. Lapar, haus, emosi lebih pendek, aktivitas tetap berjalan. Tapi justru karena sulit, ia membentuk disiplin. Ketika seseorang mampu menahan hal yang halal, ia belajar mengontrol yang haram. Dari situ muncul penguatan komitmen terhadap nilai bersama.
Dampak Puasa
Menariknya, dampak puasa tidak berhenti pada diri sendiri. Dalam Islam, perbuatan kecil punya konsekuensi sosial besar. Ayat puasa tidak hanya bicara “kamu” sebagai individu, tapi juga membuka ruang kepedulian pada orang terdekat, keluarga, tetangga, teman hingga masyarakat luas.
Tujuan akhirnya tetap takwa. Dan takwa bukan sekadar perasaan takut, tapi tindakan nyata. Ali bin Abi Thalib pernah menggambarkannya sederhana: takut kepada Allah, beramal sesuai petunjuk, menerima dengan cukup, dan selalu siap untuk perjalanan panjang menuju-Nya. Masalahnya, dalam praktik sehari-hari, kadang kita menjalani Ramadhan tanpa sadar ada sisi yang terlewat.
Kita berbuka dengan menu lengkap, tapi tidak tahu tetangga kita berbuka dengan nasi dan garam. Kita khusyuk tarawih di masjid, sementara ada orang tidak datang karena tidak punya pakaian yang layak dipakai berjamaah. Kita merasa sedang saleh, tapi tidak melihat kesulitan orang lain di sekitar.
Di titik itu kesalehan jadi terasa ambigu, religius secara pribadi, tapi tidak menyentuh sosial. Padahal Ramadhan justru mengajarkan kepekaan. Lapar seharusnya membuat kita peka terhadap lapar orang lain. Bukan hanya memperbanyak doa, tapi memperluas empati.
Ramadan selalu datang sebagai latihan sosial besar-besaran. Kita dilatih mengatur diri, lalu mengatur hubungan dengan orang lain. Dari “saya” bergerak ke “kamu”, lalu ke “kita”.
Semoga puasa tahun ini tidak berhenti di dimensi spiritual saja. Bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tapi juga horizontal dengan manusia. Karena mungkin ukuran keberhasilan Ramadhan bukan seberapa sering kita ke masjid, tapi seberapa banyak orang di sekitar kita merasa terbantu oleh keberadaan kita.***
*) Yusran – Pendidik SMA Islam Athirah Makassar













