BERITA TERKINIEDUKASI

Guru Penjaga Gerbang Intelektual

×

Guru Penjaga Gerbang Intelektual

Sebarkan artikel ini
Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Sulsel, Dr Arman Agung, menilai guru penjaga gerbang intelektual
PAPAN INTERAKTIF DIGITAL - Peserta Optimalisasi Pemanfaatan Papan Interaktif Digital di Hotel Best Western Makassar Beach, Sabtu (27/12/2025), melakukan praktik pemanfaatan PAPAN INTERAKTIF DIGITAL. (Foto : Rusdy Embas/ MAKASSARCHANNEL.COM)

MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Sulsel, Dr Arman Agung, menilai guru penjaga gerbang intelektual.

Arman Agung menyatakan itu ketika membuka pelatihan Optimalisasi Pemanfaatan Papan Interaktif Digital di Hotel Best Western Makassar Beach, Sabtu (27/12/2025).

Kegiatan yang berlangsung tiga hari itu diikuti 52 peserta, terdiri atas komunitas Guru Pejuang Digital dan staf potensial internal BBGTK Sulsel.

Arman mengatakan, tugas guru bukan membuat teknologi, tetapi memastikan agar otak siswa bekerja lebih keras dan lebih tajam.

“Saat ini, banyak orang lebih mengejar apa yang viral daripada apa yang waras. Di sinilah peran Anda sebagai gatekeeper atau penjaga gerbang intelektual,” kata Arman Agung.

Dia melanjutkan, jika guru masih mengajar dengan logika hafalan di era AI (Artificial Intelligence – Kecerdasan Buatan), kita sebenarnya sedang mencetak manusia masa lalu untuk hidup di masa depan.

Ekosistem Digital

Kehebatan seorang guru di masa kini, menurut Arman Agung, bukan lagi terletak pada kemampuannya memberi jawaban, melainkan pada keberaniannya memancing pertanyaan yang membuat kelas sunyi dalam proses berpikir yang dalam.

“Semakin canggih teknologi, seharusnya kita semakin berjuang untuk menjadi manusia,” kata Arman Agung.

Ekosistem digital harus tetap diposisikan sebagai alat untuk melatih pertimbangan moral, memupuk empati, dan membangun kesejahteraan.

“Mesin mungkin bisa menghitung dengan cepat, tetapi mesin tidak akan pernah bisa menimbang nilai,” kata Arman Agung.

Dia melanjutkan, “Hanya dengan memanusiakan manusia, kita dapat melahirkan generasi yang memiliki kebijaksanaan. Mesin boleh saja memberikan jawaban, tetapi manusialah yang memegang kendali atas makna dan kebijaksanaan.”

Jika mesin sudah bisa menjawab segala hal, untuk apa kita masih mengajar dengan cara-cara lama? Orang pintar masa kini adalah mereka yang mahir bertanya. Mereka yang mampu memberikan instruksi yang tepat kepada mesin agar memberikan jawaban yang dibutuhkan.

Pergeseran Epistemologis

Ini adalah sebuah pergeseran epistemologis; sebuah perubahan hakikat tentang apa itu belajar dan apa itu mengajar.

“Sayangnya, banyak ruang kelas, termasuk yang sudah mengadopsi teknologi, masih terjebak dalam logika lama,” kata Arman Agung.

Jika pemanfaatan teknologi interaktif hanya digunakan tanpa mengubah struktur berpikir, maka teknologi itu tidak akan membawa keunggulan.

Ia hanya akan menjadi papan tulis mahal yang mengganti kapur dengan stylus, tanpa menyentuh esensi pembelajaran itu sendiri.

Interaksi digital seharusnya bukan sekadar alat untuk mengajar, melainkan alat untuk membuat kita mampu berpikir lebih dalam.

Dia mengatakan, jika kita salah menyikapi teknologi, AI justru akan menjadi ancaman bagi pendidik. Padahal, AI sesungguhnya adalah ujian bagi kualitas intelektual kita.

Generasi Popcorn

“Jika teknologi hanya digunakan untuk mencari jawaban cepat, mempercepat penyampaian materi, atau mengejar kesuksesan administratif, maka kita sedang mempercepat lahirnya generasi popcorn,” kata Arman Agung memberi perumpamaan.

Generasi popcorn adalah generasi yang terlihat pintar namun rapuh dalam nalar dan miskin kebijaksanaan. Mereka memiliki pola pikir yang melompat-lompat, tidak fokus, dan tidak pernah tuntas dalam mendalami sesuatu.

“Akibatnya, pemahaman yang mendalam menjadi sulit didapat. Kehilangan daya fokus karena terlalu terbuai dengan apa yang disajikan secara instan di layar ponsel kita,” urai Arman Agung.

Dia melanjutkan, “Jangan sampai ada anekdot yang mengatakan bahwa orang kita itu original hanya karena otaknya jarang dipakai untuk berpikir.”

Pembelajaran Mendalam

Dia mengatakan, pula, pembelajaran mendalam (deep learning) sejatinya adalah bentuk perlawanan terhadap kedangkalan di tengah banjirnya jawaban instan dari mesin, kita justru dituntut untuk membangun dialog dan penalaran yang kuat.

“Kita tidak boleh hanya menikmati kenyamanan tombol-tombol teknologi semata,” tutur Arman Agung.

Penguasaan teknologi seharusnya menjadi jalan di mana gagasan kita diuji, argumen dipatahkan, asumsi digugat, dan pemahaman dibangun secara kokoh.

Tanpa itu, teknologi digital hanya akan menjadi aksesori yang memperindah tampilan luar, namun mematikan kedalaman berpikir.

Semakin canggih teknologi, seharusnya kita semakin berjuang untuk menjadi manusia. Ekosistem digital harus tetap diposisikan sebagai alat untuk melatih pertimbangan moral, memupuk empati, dan membangun kesejahteraan. ***

Tinggalkan Balasan