MAKKASSARCHANNEL – Buku “Ana Makassar Basar di Ambon” diluncurkan melalui kegiatan soft launching di Museum Kota Makassar, Senin (22/12/2025), pagi hingga siang.
Buku ini ditulis Rusdin Tompo. Ia seorang penulis, seniman, aktivis media, dan pegiat literasi.
Rusdin pernah menjadi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sulawesi Selatan. Selain menulis dan mengabdi dalam pengembangan literasi, Rusdin saat ini juga menjadi Ketua Satupena, sebuah entitas penulis Indoneia, untuk Wilayah Sulawesi Selatan.
Buku ini merupakan autobiografi dengan menuturkan mosaik pengalaman penulisnya. Seorang anak Makassar yang besar di perantauan.
Tahun 1970-an, Rusdin kecil diboyong kedua orangtunya Tata Daeng Tompo dan Ke’na Daeng Bollo ke Ambon. Meski merantau adalah salah satu karakteristik masyarakat Makassar dan Bugis, tetapi bagi keluarga Daeng Tompo, bukan lantaran itu.
Mereka harus memulai hidup baru di kampung orang, karena menghindari sengketa dan konflik keluarga. Tidak mau lantaran pembagian tanah warisan di sekitar Jl. Rappocini Makassar saat ini, memecah-belah keluarga.
Kedua orangtua Rusdin merelakan hak warisannya beralih saudara-saudaranya. Rela meninggalkan tanah leluhur demi keutuhan keluarga.
Hidup dan basar (besar) di Ambon sebagai ana (anak) asal Makassar menjadi kisah Rusdin Tompo di buku ini.
Rusdin menuliskan kisah hidupnya secara reflektif berdasarkan dari pengalamanya besar di Ambon. Dalam soft launching, anak Mangkasara basar ini di Ambon membacakan beberapa halaman ini buku itu.
Ia mengisahkan hidupnya di Ambon melalui ungkapan lugas, bahasa sederhana dan tuturan yang jujur. Kisah pengalaman yang terbalut dengan idiom lokal Ambon yang paripurna.
Rusdin mengisahkan keseharian dia dan keluarganya yang berevolusi menjadi orang Ambon. Sampai ia tidak pernah berpikir untuk kembali ke Makassar.
“Bahkan bapak saya itu sudah tidak mau pulang ke Makassar,” ungkap Rusdin saat soft launching.
Kisah proses besar di Ambon yang menempa Rusdin menjadi multi-talenta. Selain menulis, Rusdin juga bisa melukis, main musik dan menyanyi.
Tahun 1987, Rusdin kembali menginjak Makassar, meneruskan studi di Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin.
Pulang ke Makassar, Rusdin bukan hanya merasa dirinya orang Ambon. Keluarganya di Makassar bahkan memberi dia “stigma” sebagai orang Ambon.
Ketika SMA di Ambon, Rusdin punya grup kasidah dan band. Di sof launching, Rusdin memboyong beberapa foto kedua orangtuanya saudara-saudaranya, aktivitas bersama teman-temannya di Ambon. Foto-foto itu terpajang menjadi latar panggung.
Rusdin bahkan terisak karena keharuan mengatakan bisa memajang foto kedua orangtuanya di Museum Kota Makassar.
Cerita pengalaman Rusdin ini sebenarnya ada pada siapa saja. Namun, nilai dan muatan substantifnya bukan sekadar Rusdin mampu menuliskannya menjadi buku.
Cerita-cerita keseharian yang inspiratif. Menjadi wujud dari nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, solidaritas, pluralisme. Bagaimana ungkapan “Katong Samua Basudara” juga menjadi muatan buku ini.
Rusdin sempat menangis dalam memberi pengantar di soft launching ketika mengenang tragedi SARA di Ambon.
Rusdin berharap bisa melaunching buku ini di Ambon yang lebih meriah lagi. Karenanya, pada peluncuran di Museum Kota Makassar, baru berupa soft launching. (mus) ***













