MAKASSARCHANNEL, BULUKUMBA – Dinas Kesehatan Bulukumba laporkan 375 penderita TBC (Tuberclosis) di daerah tersebut per Juni 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba, dr Amrullah, mengatakan, dari 375 penderita TBC itu, sebanyak 369 di antaranya kasus TBC Sensitif Obat (SO) dan enam kasus TB Resisten Obat (RO).
Terkait data tersebut, Amrullah berharap, masyarakat yang terindikasi agar mendatangi Puskesmas memeriksakan diri untuk penanganan medis lebih lanjut.
“Masyarakat Bulukumba yang menderita TBC agar memberanikan diri ke puskesmas atau ke pusat kesehatan,” kata Amrullah.
Malu Datang Ke Puskesmas
Ia mengungkap bahwa biasanya masyarakat ada yang merasa malu untuk datang memeriksakan diri ke Pukesmas. Mereka datang setelah penyakitnya parah.
Terkait data penderita TBC tersebut, Amrullah mengklaim memiliki kebijakan kepada tenaga kesehatan di Bulukumba.
Jika menemukan suspek di masyarakat melalui Program CKG dapat melakukan cek kesehatan gratis di fasilitas kesehatan.
Ia harapkan juga kepada petugas kesehatan agar melakukan pemeriksaan kontak TB dengan indikator 1:10.
Amrullah juga berharap ada screening di tempat khusus (Lapas dan pesantren), screening TBC laten menggunakan TST (Tuberkulin skin test).
Terapi Pencegahan
Dia juga minta petugas memberikan terapi pencegahan tuberkulosis kepada warga.
Serta melakukan edukasi TOSS TB di masyarakat kolaborasi program TB HIV dan TB DM Active Case Finding ACF pada 3000 Populasi sasaran menggunakan Rontgen thorax dan melakukan pemantauan minum obat.
Data Dinas Kesehatan menyebut bahwa jumlah penderita TBC di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2023 sebanyak 837 orang.
Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2022 yang hanya 769 kasus.
Tahun 2024, sebanyak 1.029 kasus terdiri dari 1.022 kasus TBC Sensitif Obat dan 7 kasus TBC Resisten Obat.
Tentang TBC
TBC adalah singkatan dari Tuberkulosis, sebuah penyakit menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, ginjal, dan kelenjar getah bening.
Pada tahun 2025, TBC masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Lebih dari 1 juta kasus dan 125.000 kematian setiap tahun.
TBC menjadi ancaman kesehatan serius masyarakat. Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia.
Beberapa provinsi di Jawa, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan sebagai penyumbang kasus tertinggi, masing-masing mencatat lebih dari 40.000 kasus. (ram)











