BERITA TERKINIEDUKASI

Menag Ajak Perguruan Tingg Kembangkan Ekoteologi Hadapi Krisis Lingkungan

×

Menag Ajak Perguruan Tingg Kembangkan Ekoteologi Hadapi Krisis Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak perguruan tinggi teologi mengembangkan pendekatan ekoteologi
Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama para pimpinan perguruan tinggi teologi. (Foto: Situs Kemenag)

MAKASSARCHANNEL, JAKARTAMenteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar ajak perguruan tinggi teologi kembangkan pendekatan ekoteologi untuk menghadapi krisis lingkungan.

Nasaruddin menekankan pentingnya pendekatan ekoteologi berbasis cinta untuk membangun hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Nasaruddin mengingatkan, ancaman terbesar umat manusia saat ini bukan hanya perang, tetapi juga krisis lingkungan akibat perubahan iklim.

Ajakan ini disampaikan Menag dalam pertemuannya dengan para pimpinan perguruan tinggi teologi, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (8/5/2925).

Perubahan Iklim

Menurut Nasaruddin Umar, banyak persoalan sosial dan lingkungan saat ini berakar dari relasi manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai spiritual.

Nasaruddin mengatakan, menurut ilmuwan lingkungan, hingga jutaan orang meninggal setiap tahun gara-gara perubahan iklim.

”Sebagai pemimpin, kita harus bimbangkan apa yang akan terjadi pada masa depan jika kita tidak menjaga lingkungan kita,” tandasnya.

Mulai Dari Cinta

Nasaruddin menekankan pentingnya bahasa religi untuk meminta orang-orang mempertahankan krisis perhubungan.

Menag juga mengkritisi praktik pengajaran agama yang menanamkan kebencian antarumat.

“Jika kita ingin mengajar kebijaksanaan di Indonesia, kita harus mulai dari cinta. Jadi, substansi pejabat, substansi religi adalah cinta,” kata Nasaruddin Umar.

Masuk Kurikulum Pendidikan

Sebelumnya, Menteri Agama juga mengemukakan pentingnya ekoteologi bisa masuk dalam kurikulum sekolah.

Menag mengemukakan hal itu saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Islam 2025 di Jakarta, Januari 2025 lalu

Saat itu Menag mengungkapkan ada tiga fokus pengembangan pendidikan agama dan keagamaan di masa depan. Tiga fokus tersebut masing-masing lingkungan, toleransi, dan nasionalisme.

Menag menekankan pentinya relevansi pendidikan dalam menjawab tantangan zaman, terutama menghadapi krisis lingkungan.

Ia menyebutkan pentingnya pendekatan ekoteologi untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam pelestarian alam.

Menurut Menteri Agama, teologi kita cenderung terlalu maskulin. Karena itu, Kemenag ingin mengembangkan teologi yang lebih lembut dan berbasis pada Asmaul Husna atau nama-nama mulia Allah.

Ia berharap pelestarian lingkungan dapat dijadikan bagian dari ibadah. Dengan demikian, tanggung jawab manusia melalui integrasi dalam kurikulum pendidikan agama. ***

Tinggalkan Balasan