MAKASSARCHANNEL, BONTOSUNGGU JENEPONTO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jeneponto merilis sebanyak 2.526 Anak Tidak Sekolah di Jeneponto, Sulawesi Selatan.
“2.516 orang. Itu baru sekitar 60 persen se-Kabupaten Jeneponto,” kata Kabid PAUD Disdikbud Jeneponto Nurhayati di Kantor Bupati Jeneponto, Rabu (8/5/2024).
Pendataan ATS menurut Nurhayati, sejak tahun-tahun sebelumnya dengan membentuk tim di 113 kelurahan/ desa pada 11 kecamatan di Jeneponto.
Anak Tidak Sekolah (ATS) terbanyak menurut Nurhayati, ada di Desa Berroanging.
“Ada yang memang kita tunjuk pendata berbasis lingkungan dan dusun. ATS terbanyak di wilayah Kecamatan Bangkala Barat, Desa Berroanging,” katanya.
Ajak Bersekolah Lagi
Terkait data tersebut, Pj Bupati Jeneponto Junaedi Bakri mengajak ATS untuk kembali menempuh pendidikan.
Penyebab anak tidak bersekolah menurut Pj Bupati karena faktor ekonomi. Mereka umumnya ingin membantu orang tuanya bekerja.
Pj Bupati mengatakan, ada tiga penyebab utama ATS. Pertama, tidak pernah sekolah, kedua putus sekolah, dan ketiga berhenti sekolah.
Junaedi Bakri mengatakan, “Walaupun tidak ada angka DO sekarang, tapi mereka yang berhenti sekolah.”
Pj Bupati berjanji akan menempatkan ATS yang ingin sekolah lagi di setiap tingkatan. Usia ATS ini 15 tahun ke atas.
“Kalau mereka misalnya umur di bawah 10 tahun masuk ke SD, atau setara SMP kita arahkan juga,” kata Pj Bupati.
Usia 15 Tahun Ke Atas
“Kalau misalnya dia sudah usia 15 tahun tetapi belum ada ijazah SD ini kita arahkan ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),” jelasnya.
Junaedi menyinggung penyebab keluarga pra sejahtera di Jeneponto karena pendidikan kepala keluarga yang tidak tamat SD.
Bahkan, ada kepala keluarga yang tidak pernah duduk di bangku sekolah.
“Harapan kita ke depan kalau ini tuntas saya kira ya angka kesejahteraan masyarakat, angka kemiskinan bisa kita tekan,” terangnya.
“Kita akan persiapkan fasilitas dan tenaga pendidik,” kata Junaedi Bakri.
Pj Bupati mengatakan, bukan persoalan pemberian beasiswa, tetapi bagaimana meyakinkan bahwa dengan bersekolah mereka akan lebih baik.
“Perhatian pemerintah akan lebih maksimal,” kata Junaedi Bakri.***













